RRI Gelar Dialog Di Luar Studio, Unkhair dan BKSDA Bahas Ancaman Keanekaragaman Hayati

UNKHAIR-Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP-RRI) Kota Ternate, menggelar Program  Dialog Interaktif di Luar Studio, mengangkat topik “Potensi dan Ancaman Keanekaragaman Hayati di Maluku Utara”, berlangsung di Gedung Fakultas Pertnian (Faperta) Universitas Khairun (Unkhair), Ternate, Gambesi, Ternate Selatan, Kamis, (18/01/2024).

Dialog Di Luar Studio LPP RRI Ternate di Gedung Faperta Unkhair (Istimewa)

Bertindak sebagai pembicara utama, terdiri dari Dekan Faperta, Ir. Lily Ishak, M.Si., M.Nat.Res., Ph.D, Wakil Dekan III, Bidang Kerjasama, Kemahasiswaan, dan Alumni, Faperta Unkhair, Ir. Aqshan Shadikin Nurdin, S.P., M.Sc., IPM, dan Seksi Konservasi Wilayah I Ternate, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan BKSDA Maluku, Raj Perkasa Alam, S.Hut.

Dekan Faperta, Ir. Lily Ishak, M.Si., M.Nat.Res., Ph.D, mengatakan dialog ini merupakan program RRI Ternate, hutan kini di Wilayah Maluku Utara, dari aspek potensi dan ancaman, melibatkan narasumber dari instansi Pemerintah, maupun akademisi.

‘Dialog di Luar Studio’, program LPP RRI, ini sebelumnya Unkhair sudah membangun relasi bersama, nota kesepahaman Memorandum of Understanding (MoU), sehingga perlu di tindaklanjuti ke Badan Kerjasama (BKS).

Menurutnya, Program RRI Ternate, sesuatu yang luar biasa, ini bentuk terobosan menarik, di mana interaksi tak hanya berlangsung di dalam Studio RRI, tapi merangsek masuk ke wilayah kampus, membaur bersama masyarakat kampus.

Sangat positif, di mana Faperta di beri kesempatan berdialog melalui media elektronik, sekaligus promosi terhadap Program Studi (Prodi) Faperta Unkhair. Sedangkan, topik sendiri mengenai hutan potensi, maupun  ancamannya.

“Berbicara mengenai hutan di Malut, masih dominan di banding penggunaan lahan, terutama hadirnya para investor tambang, mengkonversi lahan untuk ekploitasi sumber daya alam (SDA), tentunya berdampak ke pertumbuhan ekonomi, sementara pertumbuhan ekonomi sendiri, tak hanya berbicara data, namun benar kah pertumbuhan ekonomi daerah di rasakan warga.

Ir. Aqshan Shadikin Nurdin, S.P., M.Sc., IPM, Wadek III, Faperta Saat Dialog (Dok. Humas)

“Jika di rasakan masyarakat, terutama di lingkar tambang, maka eksploitasi atau aktivitas pembangunan dari sisi mineral, memberi dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah,” ujarnya saat ditemui usai dialog

Faperta, memiliki Prodi Kehutanan, mengupayakan ikut bantu pemerintah, dan masyarakat demi melestarikan hutan dengan mengusulkan adanya kawasan hutan untuk tujuan khusus, yakni kawasan hutan pendidikan.

“Sudah di usulkan 500 hektar di wilayah Kabupaten Halmahera Barat (Kab. Halbar), untuk dokumennya sudah di terima Kementerian, sebab ini kewenangan pusat, agar mengijinkan penggunaan lahan kawasan hutan pendidikan,” katanya.

Dosen Faperta, ini juga menambahkan peran Perguruan Tinggi (PT), selain mencerdaskan anak bangsa, juga ikut mendorong melestarikan hutan,  keanekaragaman jenis vegetasi hutan, maupun keanekaragaman satwa- liar endemik Malut.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan BKSDA Maluku, Raj Perkasa Alam, S. Hut, mengungkapkan Program ‘Dialog di Luar Studio’ LPP RRI Ternate, sangat positif, menyentuh akademisi, dan pemerintah.

Menurutnya, berbicara hutan, asepk  Kehutanan Provinsi dan Taman Nasional Aketajawe Lolobata, sehingga cukup  mewakili pembahasan potensi, serta ancamannya, hubungannya dengan keanekaragaman hayati dan konservasi alam di Malut.

Kegiatan Dialog Di Luar Studio LPP RRI di Unkhair (Istimewa)

Lebih lanjut, diktakan dua tahun terakhir, sejak pandemik, sudah mulai berkurang, dan tingkat kesadaran makin baik terhadap kawasan konservasi, terutama beberapa satwa-satwa yang endemik. Hal ini adanya kemungkinan dampak dari beberapa solusi atas konservasi sumber daya alam (KSDA), mulai dari pemberdayaan hingga merubah paradigm konservasi alam, bahwa masyarakat sebagai subjek atas semua keadaan koservasi.

“Pemberdayaan terus digalakkan, minmal setiap tahun, 3 hingga 4 desa di Kabupaten Halmahera Selatan (Kab. Halsel), yakni Desa Gandasuli, Desa Kubung, Desa Buton, dan sementara menyusul tahun 2024, akan dilakukan Kecamatan Laiwui Obi, Wayamiga, serta Jikotamo.

Dilakukan sosialisasi kepada masyarakat atas pekerjaannya,  dan merubah pekerjaan mereka yang sebelumnya di larang, katakanlah pemburuan, dan pemalakan liar, diajak untuk dialihin ke pekerjaan-pekerjaan jenis pertanian atau perikanan.

Sementara itu, Wakil Dekan III, Bidang Kerjasama, Kemahasiswaan, dan Alumni, Ir. Aqshan Shadikin Nurdin, S.P., M.Sc., IPM, menjelaskan upaya inventarisasi keanekaragaman hayati, sudah dilakukan Faperta Unkhair, bahkan melibatkan mahasiswa, sehingga sejauh ini cukup efektif.

Menurutnya, upaya menjaga itu, pihaknya membentuk Komunitas Pencinta Satwa Liar (KPSL) Ake Jiri Faperta Unkhair. Dibentuknya komunitas itu, bertujuan dapat mengidentifikasi berbagai jenis biodiversity di Wilayah Malut.

“Keberadaan flora dan fauna yang ditemukan bisa terdata, bahkan terpublikasi,” pungkasnya sembari menambahkan kegiatan bagian dari mata kuliah.

Dosen Faperta ini, juga menambahkan kegiatan ini, bagian dari mengaktualisasi perkuliahan, yang menggunakan Metode Project Based Learning (PBL) dengan pendekatan pengajaran.

“Di bangun di atas kegiatan pembelajaran, dan tugas nyata yang memberikan tantangan bagi peserta didik, terkait kehidupan sehari-hari yang dipecahkan secara berkelompok”, tutupnya. (Humas) Penulis; Fai