FPIK Unkhair Dorong Ekonomi Biru Melalui ICFM 2023

UNKHAIR-Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Khairun (Unkhair), sukses menggelar The 4th International Conference on Fisheries and Marine (ICFM) tahun 2023, menghadirkan berbagai ahli perikanan dan kelautan, dengan mengangkat tema “Strengthening the Blue Economy Implementation for the Sustainability of Fisheries and Marine Life in the Indonesian Archipelago,”. Bertempat di Lantai IV Aula Nuku, Rektorat Kampus II, Kelurahan Gambesi Kota Ternate Selatan.

Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan, Dr. Riyadi Subur, S.Pi., M.Si Menyampaikan Sambutan ICFM 2023 di Aula Nuku (Dok. Humas)

Ketua Panitia, Tri Laela Wulandari, S.Pi., M.Si, melalui press release, memuat Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPIK) Universitas Kahirun (Unkhair), Ternate menggelar konferensi internasional membahas mengenai Perikanan dan Kelautan. Rangkaian kegiatan ini merupkan kali ke empat, yang di gelar setiap tahun, sejak tahun 2020.

Menurutnya, pemilihan tema tahun ini, lebih menekankan pada tanggung jawab bersama, mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang di domain kelautan. Kepulauan Indonesia, di berkati memiliki keanekaragaman hayati laut begitu  melimpah, tak sekedar menjadi harta nasional, tetapi juga aset global yang menuntut perhatian dan upaya bersama.

Ia mengatakan Panitia penyelenggara bekerja tanpa lelah, menyusun agenda yang beragam dan berdampak, mengumpulkan para ahli dari nasional, maupun internasional, dan kali ini, menghadirkan enam pembicara, yakni Prof. R. Dwi Susanto, Ph.D, Department of Atmospheric and Oceanic Science And Marine Estuarine and Environmental Sciences, University of Maryland, USA, Halikuddin Umasangaji, PhD, Department of Marine Science, dari Unkhair Indonesia, Paul A. Macklin, Department of Chemistry, Ganesha University of Education Bali, Indonesia, Prof. Dr. Ir. Dietriech Geoffrey Bengen, DEA, Deparment of Marine Science and Technology, IPB University Bogor, Indonesia, but because there’s important meeting prof couldn’t joining us for today, Dr. Moundir Lassassi, National Council for Scientific Research and Technologies (CNRST) Algeria, Dr. Kazuyo Hirose, Director General of Space Industry Division Japan Space Systems, Japan,

Ia menyebut, acara terdiri dari 2 sesi, sesi pertama merupakan pembicara kunci terdiri dari ke enam pembicara, dan acara selanjutnya, yakni kelas pararel di mana para peserta mempersentasikan hasil penelitiannya. Sedangkan jumlah peserta sendiri, tahun ini, sebnyak 37 peserta yang memasukan abstrak dari berbagai bidang di Perikanan dan Kelautan.

Ketua Panitia, Tri Laela Wulandari, S.Pi., M. Si (Dok. Humas)

Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan, Dr. Riyadi Subur, S.Pi., M.Si, dalam pemaparannya, menyampaikan keanekaragaman hayati di kawasan pulau-pulau kecil, zona tropis memiliki keunikan karakteristik, baik ekosistem pesisir, maupun area laut lepas hingga laut dalam, sehingga Maluku Utara di sebut salah satu area yang dikategorikan sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia (hot-spot of biodiversity).

Menurutnya, demikian upaya-upaya dalam mengeksplorasi sumber daya ini, belum mencapai nilai optimal, sebagaimana dilakukan di berbagai wilayah laut lainnya di dunia, seperti di China, Jepang, Korea serta beberapa negara lainnya di Eropa, bahkan Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Ia menjelaskan, bahwa kawasan pesisir pulau-pulau kecil dengan ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang, selain memiliki fungsi secara fisik, ekologis maupun secara kimiawi telah memberi kontribusi besar, menopang perekonomian bangsa, baik kontribusinya dalam pangan lokal, maupun pariwisata.

“Setidaknya telah memberi dampak signifikan terhadap pembangunan perekonomian bangsa, terutama masyarakat pesisir” jelasnya.

Sedangkan, katanya konsep ekonomi biru dapat di maknai sebagai suatu paradigm baru dalam pembangunan nasional, maupun standard Perserikatan Bangsa-Bangsa, mewujudkan Sustainable Development Goals (SDG), yakni pembangunan berkelanjutan di masa depan, yang berbasiskan pemanfaatan sumber daya laut, untuk kemaslahatan umat di masa depan tanpa memberi dampak lingkungan.

“Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah persoalan lingkungan, misalnya pencemaran laut, akumulasi sampah plastik, yang seharus menjadi perhatian penuh dari berbagai stakeholders,” ungkapnya.

Foto Bersama ICFM 2023 di Aula Nuku (Dok. Humas)

Sementara, lanjutnya limbah pertambangan yang memasuki lingkungan laut telah memberi dampak destruktif terhadap ekosistem pesisir. Belum lagi perubahan iklim beberapa dekade terakhir, seperti pemanasan global, El-Nino Sothern Oscillation, Indian Ocean Dipole telah membawa dampak coral Bleaching, penyusutan tutupan hutan mangrove, dan lamun di beberapa lokasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kerumitan yang di hadapi, menurutnya memerlukan kolaborasi dalam skala luas, termasuk kerjasama di ranah lokal, regional maupun internasioanl. Selanjutnya, melakukan riset secara intensif untuk mengungkap data, dan informasi yang mutakhir, agar solusi tepat dapat segera diambil dalam mendukung konsep blue ekonomi secara terintegrasi.

Foto Bersama Konference International Ekonomi Biru (Dok. Humas)

Di akhir pemaparan, Ia berharap melalui konferensi, menjadi ruang interaksi intelektual-akademik, yang bersifat kolektif kolegial bagi akademisi, peneliti, maupun intelektual dari lintas disiplin ilmu kelautan, perikanan, sehingga ekonomi dalam rangka menginspirasi munculnya pemikiran, dan konsep terkini guna mewujudkan pembangunan berbasiskan ekonomi biru, tak hanya lokal, tetapi di kawasan regional maupun internasional.

Wakil Rektor I, Bidang Akademik, Dr. Hasan Hamid, M.Si, menyampaikan dalam sambutannya, konferensi internasional ke empat, mengenai Perikanan dan Kelautan adalah bukti nyata dari dedikasi perguruan tinggi ini, untuk memajukan keunggulan akademis, dan mengatasi isu-isu kritis yang di hadapi dunia, kini.

Melalui tema, yang di usung menurutnya, selaras dengan komitmen terhadap penelitian, pendidikan, dan keterlibatan masyarakat. Ia menjelaskan lautan bukan hanya sekadar badan air; mereka adalah nyawa bagi berbagai komunitas dan ekosistem.

Warek, juga mengjak peserta yang terlibat dalam diskusi, maupun presentasi ini, perlu mengingat dampak mendalam yang dapat di miliki oleh karya terhadap masa depan berkelanjutan laut, serta orang-orang yang bergantung pada mereka.

Unkhair, merupakan Perguruan Tinggi kebanggaan menjadi pusat pertukaran intelektual, dan inovasi, sehingga dapat mendorong semua peserta, untuk aktif terlibat dalam berbagai sesi, berbagi keahlian, serta berkolaborasi menuju penemuan solusi yang berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan sumber daya laut.

Ia menyampaikan, terimakasih tak terhingga kepada panitia penyelenggara, pembicara utama, serta seluruh peserta, yang bekerja keras menyelenggarakkan konferensi ini menjadi kenyataan. Dedikasinya, merupakan cerminan nyata dari komitmen bersama terhadap pengetahuan, dan kemajuan.

Diakhir sambutannya, Ia berharap semoga konferensi ini, menjadi sumber inspirasi, pembelajaran, dan kolaborasi. Selamat mendapatkan pengalaman yang produktif, dan dapat memperkaya ilmu pengetahuan di Konferensi Internasional ke empat di bidang Perikanan dan Kelautan. (Tim Humas)***