Akselerasi Menuju PTN-BH, Wakil Rektor I Tekankan Penguatan Unit Usaha

UNKHAIR, Penguatan unit usaha non-pendidikan dinilai menjadi langkah strategis bagi Badan Pengelola Usaha (BPU) Universitas Khairun (Unkhair) dalam mempercepat transformasi dari Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU) menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).

Hal itu disampaikan Wakil Rektor I Bidang Akademik Unkhair, Dr Hasan Hamid, M.Si, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) di Aula Nuku, Lantai IV Gedung Rektorat, Kampus II Unkhair, Ternate, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, langkah tersebut menjadi krusial di tengah keterbatasan pendapatan Unkhair yang masih bergantung pada sumber konvensional, seperti Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Karena itu, kata Dr. Hasan diperlukan terobosan untuk menciptakan sumber pendapatan baru melalui pengembangan unit usaha.

FGD ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Prof. Dr. H. Haris Supratno, Kepala Badan Investasi dan Bisnis IPB University Dr. Indah Yuliasih, S. TP., M. Si, serta Kepala Badan Pengelola Usaha Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr. Widya Parimita, M. PA.

Dr. Hasan, menyebut FGD ini merupakan bagian dari program revitalisasi perguruan tinggi negeri, khususnya dalam mendorong akselerasi dari PTN-BLU menuju PTN-BH.

Ia menjelaskan, status BLU Unkhair yang diperoleh sejak 2020 belum berjalan optimal akibat pandemi COVID-19. Dua tahun terakhir, Unkhair terus melakukan pembenahan, termasuk penyesuaian sistem keuangan dan remunerasi.

“BLU masih melekat di Unkhair, dan beberapa core business sudah dirintis. Ada yang berjalan, namun ada juga yang masih tersendat,” jelasnya.

Menurut Dr. Hasan, tantangan utama yang dihadapi Unkhair saat ini adalah ketergantungan pada pendapatan konvensional, khususnya dari UKT. Sementara jumlah mahasiswa aktif sekitar 12 ribu dan potensi meningkat hingga 16 ribu, besaran UKT dinilai masih relatif rendah.

“UKT kita sebagian besar hanya sampai kelompok lima dengan kisaran tertinggi sekitar Rp2,3 juta dan tidak berubah sejak 2017. Ini tentu menjadi tantangan dalam menjaga kualitas dan mutu pendidikan,” katanya.

Lebih jauh, tambah Dr. Hasan perlunya diversifikasi sumber pendapatan melalui penguatan unit usaha non-pendidikan. Berbagai fasilitas Unkhair, seperti laboratorium, dinilai tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan akademik, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai sumber pendapatan melalui layanan jasa dan kerja sama.

“Ke depan, kita tidak bisa hanya bergantung pada UKT. Harus ada terobosan melalui kerja sama, riset inovatif, dan hilirisasi yang mampu menghasilkan revenue bagi universitas,” ujarnya.

Ia berharap, melalui FGD, peserta dapat memperoleh wawasan dan praktik terbaik dari perguruan tinggi lain yang telah lebih dulu mengembangkan unit usaha.

“Kegiatan ini sangat strategis. Diharapkan seluruh peserta dapat aktif berdiskusi dan berbagi gagasan untuk memperkuat BPU Unkhair,” harapnya.*

_________________________________________
Laporan: Chessa |Editor: Polo |Foto: Chessa