UNKHAIR, Angin tipis menggeser permukaan laut yang tampak tenang. Memasuki hari ketujuh pencarian Dr. Wildan Mattara, S.S., M.Hum, laut masih terbentang tanpa jawaban.
Harapan tetap digenggam, meski kian menipis. Di tengah deru mesin speedboat dan wajah-wajah letih tim SAR gabungan, dua anak Dr. Wildan berdiri di barisan yang sama dengan para pencari.
Mereka mengikuti setiap penyisiran, menyusuri pulau demi pulau di perairan Teluk Bibinoi. Setiap Tim SAR Gabungan berangkat membawa harapan baru, sementara setiap kepulangan ke dermaga Bibinoi yang menjadi pangkalan Tim SAR Gabungan menyisakan kecemasan yang tertahan.
Dr. Wildan merupakan dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (FIB-Unkhair). Lahir di Wajo, Sulawesi Selatan, 10 Mei 1973, ia mengabdi sebagai dosen sejak 2001.
Selama lebih dari dua dekade, hidupnya diabdikan untuk mengajar dan meneliti sejarah serta budaya masyarakat pesisir Maluku Utara.
Riset terakhir membawanya ke Pulau Obi bersama sembilan dosen lain. Lima orang kembali ke Ternate, sementara lima lainnya, Andi Sumar Karman, Safrudin Abdulrahman, Wildan Mattara, Bahtiar Hairullah, dan Rano Karno Madilis, melanjutkan perjalanan dari Pelabuhan Pasar Babang menuju Desa Piga Raja, Kecamatan Bacan Timur Selatan.
Perjalanan itu terhenti pada Jumat, (23/1/2026). Kapal motor PM Indriyani berukuran 6 GT yang mereka tumpangi, dengan 59 penumpang, dihantam gelombang setinggi 1,5 hingga 2 meter di perairan Teluk Bibinoi. Air laut masuk ke badan kapal, menyebabkan longboat terbalik dan tenggelam.
Syadzali Andi Mattara dan Muhammad Fauzi Andi Mattara, anak kedua dan ketiga Dr. Wildan, memilih tetap berada di garis depan pencarian.
Sejak pagi hingga pukul 16.09 WIT, enam armada SAR gabungan dikerahkan, terdiri dari Basarnas Ternate, UPP Babang, KPLP, Polairud, BNPB, serta dua armada milik warga Bibinoi.
Syadzali turut bersama tim SAR Unkhair mendekati titik karam kapal di Tanjung Air Bibinoi, lokasi yang sempat terseret arus.
Di sekitar bangkai kapal dan rimbun mangrove, tim SAR tidak menemukan tas maupun pakaian yang dikenakan Dr. Wildan. Satu-satunya benda yang ditemukan hanyalah sebuah topi rimbah berwarna biru jeans, yang dikenali sebagai miliknya.
Saat perahu tim SAR merapat di pesisir, Syadzali Andi Mattara turun menyusuri lumpur dan akar bakau. Tangis pun pecah. “Ayah pulang sudah, cukup ayah,” teriak anak itu, sebelum suaranya hilang ditelan debur kecil ombak di tepi pantai.
Dr. Wildan Mattara diketahui meninggalkan seorang istri, Ratna, serta lima anak, yakni Halki Andi Mattara, Syadzali Andi Mattara, M. Fauzy Andi Mattara, Muadz Makkatutu Andi Mattara, dan Diyaurrahman Andi Mattara.
Memasuki hari ketujuh pencarian, yang menjadi batas prosedur operasi standar (SOP) Basarnas, upaya penyisiran masih belum membuahkan hasil. Hingga menjelang senja, laut tetap menyimpan rahasia, sementara harapan tak beranjak dari bibir pantai, bersama dua anak yang setia menunggu kepulangan sang ayah.*
__________________________________
Penulis: Polo |Foto: Humas Unkhair

