UKM Riset Khairun Cendikia Gelar Sekolah Ilmiah Mahasiswa

UNKHAIR, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset Khairun Cendikia Universitas Khairun (Unkhair) menggelar Sekolah Ilmiah Mahasiswa di Aula Nuku, Lantai 4 Kampus II Rektorat Unkhair, Ternate, Senin (12/1/2026).

Program ini dirancang sebagai pelatihan bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa tingkat akhir, untuk memperkuat penyusunan tugas akhir.

Pembina UKM Riset Khairun Cendikia, Abu Rahmat Ibrahim, S.TP., M.Sc, menjelaskan materi pelatihan, meliputi cara menemukan ide penelitian, penyusunan proposal yang baik dan benar, pengelolaan referensi menggunakan mendeley, hingga teknik presentasi yang efektif.

“Program ini diharapkan mampu mendorong lahirnya karya tulis ilmiah mahasiswa yang tidak hanya memenuhi syarat akademik, tapi juga berkualitas dan berdampak,” harap Abu Rahmat saat menyampaikan sambutan.

Ketua UKM Riset Khairun Cendikia, Siti Husnul Khatimah, menyebutkan kegiatan ini diikuti oleh 60 mahasiswa dari Unkhair, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate, dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU).

“60 persen peserta merupakan mahasiswa tingkat akhir, sementara sisanya berasal dari semester dua dan enam,” ungkap Siti.

Melalui Sekolah Ilmiah Mahasiswa ini, lanjut Siti, peserta diharapkan tidak hanya mampu menulis karya ilmiah yang baik, tetapi juga terampil menyampaikan gagasan akademiknya kepada publik secara meyakinkan.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 16.30 WIT tersebut menghadirkan sejumlah pemateri, di antaranya Prof. Dr. Hamidin Rasulu, S.TP., M.Si, Dr. Ir. Assaf Arief, S.T., M.Eng, Ismi Musdalifah Darsan, S.Pi., M.Pi, serta Abu Rahmat Ibrahim, S.TP., M.Sc.

Dr. Ir. Assaf Arief, S.T., M.Eng, mengatakan, riset harus menjadi tulang punggung kampus sesuai moto Unkhair, “Maju dengan Ilmu”, sekaligus menjadi ujung tombak dalam membangun reputasi universitas yang berbasis kepulauan dan kemajemukan.

Menurut Dr. Assaf, ide penelitian sebaiknya berangkat dari konteks lokal Maluku Utara, seperti sektor pariwisata kepulauan, pertambangan, serta pengelolaan sumber daya alam. Riset yang konstruktif dan relevan, katanya, akan memberi manfaat nyata bagi pembangunan daerah, bukan sekadar memenuhi target kelulusan.

Sementara, Prof. Dr. Hamidin Rasulu, S.TP., M.Si, menyampaikan proposal merupakan kunci utama setiap jenjang pendidikan tinggi, mulai dari S1 hingga S3. Proposal disusun dengan baik akan menentukan kelancaran studi mahasiswa, sedangkan proposal yang lemah justru menjadi penghambat proses akademik.

“Semua tahapan ujian bermula dari proposal. Jika proposalnya tidak kuat, tahapan berikutnya pasti akan sulit,” jelas Guru Besar Fakultas Pertanian Unkhair.

Ia menambahkan, proposal bukan sekadar formalitas untuk memperoleh persetujuan, melainkan rencana ilmiah tertulis yang harus disusun secara sistematis, mencakup permasalahan penelitian, tujuan, metode, manfaat, hingga luaran yang ditargetkan, termasuk publikasi ilmiah.

Selain tugas akhir, sambung Prof. Hamidin, proposal juga dibutuhkan dalam berbagai kegiatan akademik, seperti pengabdian masyarakat, kewirausahaan, beasiswa, dan Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Di sisi lain, Ismi Musdalifah Darsan, S.Pi., M.Pi, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair, menekankan pentingnya manajemen referensi dalam penulisan karya ilmiah.

Menurutnya, kesalahan sitasi dan daftar pustaka kerap terjadi akibat pengelolaan referensi secara manual, terutama saat dokumen mengalami banyak revisi.

Ismi memperkenalkan mendeley sebagai solusi praktis untuk mengelola sitasi dan daftar pustaka secara otomatis.

Lebih jauh, kata Ismi, aplikasi itu memungkinkan penulis melakukan sitasi dengan sekali klik, mengganti gaya sitasi secara instan, serta menjaga kerapian referensi melalui fitur pengelompokan dan sinkronisasi data.

Materi penutup disampaikan oleh Abu Rahmat Ibrahim, yang menegaskan presentasi ilmiah tidak cukup hanya menyampaikan isi materi, tepi harus mampu memberikan dampak kepada audiens.

Pada paparannya, bertajuk “Membuat Presentasi yang Impactful”, ia menekankan pentingnya membangun energi positif atau vibrasi saat berbicara di depan publik.

“Banyak presentasi gagal bukan karena materinya lemah, tetapi karena cara penyampaiannya tidak menyentuh audiens,” ujarnya.

Abu Rahmat, menyebut kemampuan presentasi bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat dilatih. Dengan penyampaian yang lembut, berbasis data, dan persuasif, pesan ilmiah tidak hanya didengar, tetapi juga mampu mendorong audiens untuk memahami dan bertindak.*

_________________________________________
Laporan: Chessa |Editor: Polo |Foto: Chessa