21 Aug 2026 Humas News Read 17 times

Prof. Bill Carter Dorong Penguatan Sustainable Tourism dan Ekowisata di Malut

Prof. Bill Carter Dorong Penguatan Sustainable Tourism dan Ekowisata di Malut

UNKHAIR, Pengembangan pariwisata di Maluku Utara perlu diarahkan pada konsep sustainable tourism yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi, kelestarian lingkungan, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Hal itu disampaikan Prof. Dr. R.W. (Bill) Carter, Ph.D, profesor bidang Sustainable Tourism dari University of the Sunshine Coast (UniSC), Australia, pada kuliah umum di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun (Unkhair), Jumat (21/8/2026). 

Kuliah umum mengusung "Marine Tourism and Ecotourism Prospects in North Maluku", ini iikuti dosen, dan mahasiswa. Diskusi dipandu Kris Syamsudin, dari Dinas Pariwisata Provinsi Malut.

Sebelumnya, Prof. Bill Carter juga mengisi kuliah umum di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unkhair, membahas pengelolaan pariwisata bahari dan ekowisata serta prospeknya di Malut.

Rangkaian kegiatan tersebut bagian dari implementasi kerja sama akademik antara Unkhair dan University of the Sunshine Coast, Australia. Kehadiran akademisi internasional itu sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai peluang dan tantangan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Malut.

Wakil Dekan II FKIP Unkhair, Dr. Soleman Saidi, M.Sc, mengapresiasi kehadiran Prof. Bill Carter, dan kontribusinya dalam memperkuat hubungan akademik kedua universitas.

"Kerja sama internasional tidak hanya penting bagi pengembangan akademik, tetapi juga memperkuat penelitian, pengembangan sumber daya manusia, serta pemanfaatan potensi lokal Maluku Utara melalui pendekatan yang berkelanjutan," ujar Dr. Soleman saat membuka kuliah umum.

Prof. Bill Carter, menilai Malut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi marine tourism dan ecotourism.

Karakter wilayah kepulauan, kekayaan laut, terumbu karang, kawasan pesisir, pulau-pulau kecil, dan keanekaragaman hayati menjadi modal penting bagi pengembangan wisata berbasis alam.

Selain wisata bahari, Malut memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang dapat dikembangkan melalui konsep heritage tourism. Sejarah Kesultanan Ternate dan Tidore, jalur perdagangan rempah-rempah, benteng bersejarah, serta tradisi masyarakat merupakan aset yang dapat memberikan pengalaman wisata sekaligus memperkuat identitas daerah.

Namun, bagi Prof. Bill Carter, pengembangan destinasi tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam.

Prinsip keberlanjutan mengharuskan sumber daya yang menjadi daya tarik wisata dijaga agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Karena itu, pengembangan ekowisata perlu menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian penting dalam pengelolaan destinasi. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga perlu memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan menjaga lingkungan serta budaya setempat.

Salah satu isu yang mendapat perhatian pada sesi diskusi adalah waste management atau pengelolaan sampah di kawasan wisata.

Pertumbuhan pariwisata, terutama di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, harus diikuti sistem pengelolaan sampah yang memadai. Tanpa pengelolaan yang baik, peningkatan jumlah wisatawan berpotensi menambah tekanan terhadap lingkungan dan menurunkan kualitas destinasi.

Pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, penggunaan kembali, pengolahan, serta edukasi wisatawan menjadi bagian penting membangun destinasi yang berkelanjutan.

Pengelolaan tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, pelaku usaha pariwisata, dan wisatawan.

Bagi Malut, isu ini menjadi penting karena sejumlah destinasi potensial berada di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki ekosistem rentan.

Selain persoalan lingkungan, Prof. Bill Carter menyoroti sejumlah tantangan lain dalam pengembangan pariwisata Malut, seperti aksesibilitas, kesiapan sumber daya manusia, kualitas pelayanan, infrastruktur, promosi destinasi, serta keterlibatan masyarakat.

Di sisi lain, perkembangan pariwisata membuka peluang bagi mahasiswa dan generasi muda untuk terlibat di berbagai bidang, antara lain tourism entrepreneurship, perhotelan, pemandu wisata, digital tourism, ekonomi kreatif, serta pengembangan produk wisata berbasis masyarakat dan lingkungan.

Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (sdm) yang tidak hanya memahami konsep pariwisata, tetapi mampu menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengembangan destinasi.

Rangkaian kuliah umum utu, dilakukan pertukaran cenderamata antara FKIP Unkhair, dan Prof. Bill Carter, sebagai simbol penguatan hubungan kerja sama kedua institusi.

Prof. Bill Carter juga menyerahkan buku berjudul Keeping the History Alive: Heritage Interpretation of Fort Oranje kepada Wakil Dekan II FKIP Unkhair, Dr. Soleman Saidi.

Buku tersebut merupakan hasil kolaborasi penulis, pegiat wisata dari Unkhair, Dinas Pariwisata Malut, dan University of the Sunshine Coast, Australia.

Buku itu ditulis Roswita M. Aboe, alumni Monash University Australia, melalui dukungan hibah Australian Awards Grants tahun 2020–2021.

Karya tersebut menjadi contoh kolaborasi akademik internasional yang menghasilkan produk pengetahuan dengan mengangkat sejarah dan warisan budaya lokal untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan pariwisata. (*)

Laporan: Acil |Editor: Polo |Foto: FKIP Unkhair