21 Jul 2026 Humas Berita Dibaca 56 kali Kuliah Umum Unkhair Bahas Spesies Baru Kutu Putih, Guru Besar Unib Soroti Ancaman Global UNKHAIR, Peneliti mengungkap temuan spesies baru kutu putih berpotensi menjadi ancaman serius terhadap ketahanan pangan, tidak hanya di Indonesia, tapi juga secara global. Temuan itu disampaikan Guru Besar Universitas Bengkulu (Unib), Prof. Agustin Zarkani, S.P., M.Si., Ph.D, pada kuliah umum yang rangkaian Dies Natalis ke-62 Universitas Khairun, di Aula Nuku, Kampus II Unkhair, Ternate, Selasa (21/7/2026). Kuliah umum mengusung tema "Spesies Baru Dunia Kutu Putih (Hemiptera: Pseudococcidae) Asal Indonesia dan Dampaknya pada Tanaman," itu dipandu dosen Fakultas Pertanian (Faperta) Unkhair, Betty Kadir Lahati, S.P., M.Si, diikuti dosen dan ratusan mahasiswa. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Unkhair, H. Jamal Hi. Arsad, S.H., M.H, mengatakan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Panitia Dies Natalis ke-62 Unkhair bersama Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian. Menurut Jamal, tema yang diangkat relevan dengan tantangan sektor pertanian. Penemuan spesies baru kutu putih bukan sekadar pencapaian ilmiah, tapi jadi peringatan dini terhadap ancaman hama yang berpotensi mengganggu produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. "Kami terus mendorong kolaborasi akademik seperti ini untuk menghidupkan atmosfer ilmiah di kampus sekaligus memperkuat semangat mahasiswa dalam mengembangkan sektor pertanian di Maluku Utara," ujarnya. Ia juga mengajak mahasiswa Faperta untuk bangga dengan bidang ilmu yang dipilih. Menurutnya, Maluku Utara memiliki potensi besar di sektor pertanian melalui komoditas unggulan, seperti pala dan cengkih yang dapat terus dikembangkan berbasis riset dan inovasi. Pada sesi pemaparan, Prof. Agustin menjelaskan Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Menurutnya, kawasan Wallacea yang meliputi Sulawesi dan Maluku, termasuk Maluku Utara, memiliki karakter biodiversitas yang unik dan berbeda di setiap pulau. Prof. Agustin juga menyoroti pentingnya hilirisasi komoditas pertanian. Menurutnya, pala dan cengkih asal Maluku Utara masih banyak dipasarkan sebagai bahan mentah, padahal senyawa aktifnya bernilai ekonomi lebih tinggi jika diolah. Ia juga memaparkan hasil penelitiannya tentang kutu putih (mealybugs). Hingga kini, Indonesia baru mencatat 119 spesies dari 32 genus, sehingga peluang menemukan spesies baru masih terbuka lebar. Salah satu temuannya adalah Corizococcus ozeryi, spesies kutu putih yang hanya menyerang tanaman parasit atau benalu tanpa merusak tanaman inangnya. Temuan itu, tambah Prof. Agustin dinilai berpotensi dikembangkan sebagai agen pengendali hayati untuk mengendalikan benalu secara alami tanpa menggunakan bahan kimia. "Kutu putih merusak tanaman dengan mengisap cairan tanaman dan menghasilkan embun madu yang memicu pertumbuhan jamur jelaga. Jika serangannya tidak terkendali, tanaman dapat mengalami kerontokan daun hingga mati," jelasnya. Menutup kuliah umum, Prof. Agustin mengajak mahasiswa terus mengembangkan riset pertanian. Menurutnya, kekayaan biodiversitas Indonesia perlu dioptimalkan melalui penelitian dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian.(*) Kontributor: Chessa |Editor: Polo |Foto: Fai