UNKHAIR, Di antara ratusan wisudawan, senyum Nadia Siti Nurjanah tampak menyimpan cerita yang lebih panjang daripada sekadar sebuah kelulusan. Di Aula Banau, Kampus I Universitas Khairun (Unkhair), Kelurahan Akehuda, Kota Ternate, Sabtu (22/8/2026), ia berdiri mengenakan toga dengan predikat sebagai lulusan terbaik.
Nadia merupakan lulusan Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unkhair. Ia meraih predikat pujian (cum laude) dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,97 dan menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 9 bulan.
Nadia menjadi lulusan terbaik, dari 335 wisudawan yang meraih predikat pujian pada Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026. Secara keseluruhan, Unkhair mewisuda 856 lulusan dari jenjang profesi, sarjana, magister, hingga doktor.
Di balik angka 3,97 itu, ada kisah tentang sebuah keluarga yang menjalani hidup dengan kesederhanaan. Ayah Nadia, Sofyan Farid, berprofesi sebagai penjual optik kacamata. Ia tidak memiliki toko tetap.Â
Kacamata dijajakannya secara mandiri, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Nadia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia berasal dari Cianjur, Jawa Barat, tetapi sejak duduk di bangku sekolah dasar menetap di Kota Ternate, setelah ayahnya merantau mencari penghidupan. Ibunya, Yayu Sri Wahyuni, telah meninggal dunia.
Pekerjaan sang ayah tidak pernah membuat Nadia merasa rendah diri. Ia justru tumbuh dengan keyakinan bahwa pekerjaan apa pun yang dilakoni dengan jujur, memiliki kehormatan.
Dari kehidupan sederhana itu, Nadia menyimpan cita-cita, menjadi sarjana seperti orang lain yang memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi.
“Saya tidak minder dengan pekerjaan orangtua. Saya juga ingin menjadi sarjana, seperti orang-orang sukses lainnya,” ujar Nadia kepada Humas Unkhair usai mengikuti prosesi wisuda.
Perjalanan menjadi sarjana pun tidak selalu mudah. Biaya kuliah Nadia pada awalnya ditanggung secara mandiri. Ia kemudian mendapatkan beasiswa dari Bank Indonesia (BI) selama dua semester, yakni semester IV dan V. Bantuan itu turut meringankan beban pendidikannya.
Meski ditengah himpitan ekonomi, Nadia memilih menghadapinya tanpa menyerah. Ia membangun satu kebiasaan yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya, tekun.
Setiap menghadapi ujian, Nadia mempersiapkan diri sekitar satu bulan sebelumnya. Materi dipelajari sedikit demi sedikit, bukan ditumpuk pada malam terakhir.
“Kalau mau ujian, saya benar-benar prepare dari sebulan sebelumnya. Belajarnya dicicil, tidak SKS (sistem kebut semalam). Alhamdulillah, dengan cara seperti itu saya bisa melewati ujian dengan baik,” katanya.
Nadia bukan satu-satunya lulusan terbaik pada wisuda kali ini. Pada jenjang magister, predikat terbaik diraih Sumanto Basahona, S.Hut, dari Program Studi Magister Ilmu Pertanian dengan IPK 4,00 dan lama studi 1 tahun 6 bulan. Pada jenjang doktor, Muhammad Kamal, M.Si, dari Prodi Doktor Manajemen meraih IPK 3,88 dengan lama studi 2 tahun 10 bulan. Sementara lulusan terbaik Program Profesi Dokter diraih Muhammad Wahyu Tryadi, S.Ked, dengan IPK 3,86 dan lama studi 2 tahun 4 bulan.
Kini, setelah bergelar sarjana psikologi, Nadia belum ingin terburu-buru kembali ke bangku kuliah. Ia memilih bekerja lebih dahulu untuk memperoleh pengalaman, dan membantu orangtuanya.
Walau begitu, Nadia berharap, dapat melanjutkan pendidikan profesi dan mewujudkan cita-citanya menjadi psikolog.
Kepada mahasiswa yang masih berjuang, Nadia berpesan, agar tidak melupakan doa, terus berusaha, dan tekun mengejar tujuan.
Kisahnya seolah mempertemukan dua perjalanan dalam satu keluarga. Sang ayah berkeliling menjajakan kacamata agar kehidupan terus berjalan. Sang anak menempuh pendidikan agar masa depannya memiliki arah. Kacamata membantu mata melihat lebih jelas, tetapi bagi Nadia, pendidikan telah menjadi cahaya yang membuatnya berani melihat jauh ke depan. (*)
Laporan: Acil |Editor: Polo |Foto: Chessa