UNKHAIR—Pusat Penelitian Pembangunan Daerah Universitas Khairun bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Ake Malamo, menyelenggarakan workshop menjaga ekosistem dan potensi karbon di Maluku Utara.

Workshop mengangkat tema “Perhitungan Sarapan Karbon Biru di Ekosistem Mangrove”, berlangsung di Lt. 4 Aula Babullah, Selasa (10/12/2024).
Kepala Pusat Penelitian Unkhair, Dr. M. Janib Achmad, S.Pi., M.Sc, ditemui menjelaskan workshop ini menghadirkan dua pemateri ahli di bidang ekosistem mangrove, yaitu Ardan, S.Pi., M.Si., dan Supyan, S.Pi., M.Si., juga akademisi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair.
Kata Dr. M. Janib, kegiatan tersebut dihadiri oleh mahasiswa, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Maluku Utara, DLH Kota Ternate, dan Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) dari seluruh kabupaten/kota se-Maluku Utara.
Dr. Mufti Amir Sultan, ST., MT, Sekretaris LPPM Universitas Khairun, membuka acara ini, dengan dihadiri juga oleh perwakilan Kepala BPDAS.
Sesi pertama workshop, lanjut Dr. Janib Achmad, para pemateri berbicara pentingnya bagaimana manfaat mangrove menarik karbon biru yang ada di atmosfir.

Menurutnya, rehabilitasi mangrove yang sedang dijalankan oleh KKMD. Selama beberapa tahun terakhir, KKMD telah menanam 170 bibit mangrove dan berencana untuk menambah jumlah penanaman di masa mendatang.
“Degradasi mangrove di Maluku Utara mencapai sekitar 46.000 hektar antara tahun 2010-2015. Saat ini, hanya tersisa sekitar 41.000 hektar, dengan Halmahera Selatan, Halmahera Barat, dan beberapa wilayah lain menjadi yang paling terdampak,” jelas Dr. Janib.
Degradasi ini, bagi Dr. Janib Achmad disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk industri, perubahan lahan, pengelolaan perikanan yang tidak ramah lingkungan, serta pemanfaatan mangrove oleh masyarakat untuk kayu bakar dan bahan bangunan.
Workshop ini juga menekankan manfaat mangrove bagi kehidupan masyarakat. Selain sebagai sumber pangan, mangrove berfungsi sebagai tempat pembiakan ikan yang penting bagi nelayan, serta melindungi pantai dari abrasi, dan gelombang besar.
Bahkan, menurutnya mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon biru tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan hutan daratan.
“Mangrove juga bermanfaat untuk kesehatan. Buahnya bisa menjadi sumber pangan, sementara kulit, akar, dan batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat,” ujar Dr. Janib.
Tak hanya itu, Dr. Janib juga menyoroti peran mangrove dalam mengurangi populasi nyamuk penyebab penyakit malaria, yang sering kali terabaikan.
Dengan banyaknya manfaat tersebut, diharapkan workshop ini dapat mendorong pemahaman yang lebih baik di kalangan peserta, terutama mahasiswa dan masyarakat, tentang pentingnya menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove untuk keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
“Maluku Utara kini berada dalam kondisi darurat mangrove. Kita harus menjaga dan melestarikan mangrove untuk keberlanjutan ekosistem kita,” tegas Dr. Janib.
Melalui kegiatan ini, Dr. Janib Achmadpaya diharapkan semakin banyak pihak yang terdorong untuk mendukung upaya rehabilitasi dan pelestarian mangrove, demi menjaga ekosistem yang sangat vital bagi kehidupan manusia dan alam. (Kehumasan)*

