UNKHAIR–Rangkaian Dies Natalis Ke-60, Universitas Khairun kembali menggelar seminar nasional dengan tajuk “Membangun Generasi Emas Indonesia Melalui Pendidikan Tinggi yang Berkualitas dan Inklusif.” Bertempat di Aula Nuku Gedung Rektorat, Kampus II Unkhair, Gambesi Kota Ternate Selatan, Rabu (21/8/2024).

Seminar nasional menghadirkan pembicara dari akademisi dan praktisi, yakni Sekretaris Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof. Ir. Sumbangan Baja, M.Phil, Ph.D, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Maluku Utara, Dwi Putra Indrawan, yang dipandu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unkhair, Asril Arilaha, SE., MM.
Kegiatan tersebut di hadiri Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr. Hasan Hamid, M.Si, Wakil Rektor III Bidang Kerjasama, Kemahasiswaan, dan Alumni, Abdul Kadir Kamaluddin, S.P., M.Si, para dekan, kepala Biro, dan mahasiswa di lingkungan Universitas Khairun.
Wakil Rektor III, Abdul Kadir Kamaluddin, S.P., M.Si, dalam sambutannya, mengatakan seminar nasional ini selain bertujuan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), juga
merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-60 Universitas Khairun.
“Di usia 60 tahun Unkhair, laksana umur manusia dewasa, sehingga perlu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, dan tangguh demi masa depannya”, ujar Warek.
Dies Natalis ke-60 Unkhair mengusung tema “Unkhair Tangguh, SDM Unggul”. Teman ini sengaja diangkat akibat belakangan hadirnya industrial dikhawatirkan mengancam sumber daya manusia (SDM). Faktanya lulusan SMA/SMK/MA belakangan cenderung bekerja, ketimbang melanjutkan studi di perguruan tinggi.

“Lihat saja mulai berkurang banyak generasi yang seharusnya melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi malah ikut melancong pekerjaan yang tak biasa”, ucap Warak.
Justeru, lanjut Warek kurangnya generasi melanjutkan studi menjadi kekhawatiran, sekaligus keprihatinan, karena mengancam SDM generasi mendatang”, cetus warek.
Di samping itu, lanjut warek alasan biaya kuliah, Unkhair tak tinggal diam, senantiasa mencarikan solusi melakukan kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk kerja sama dengan pemerintah daerah. Semuanya di upayakan untuk mengatasi pembiayaan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa.
“Saat ini, mahasiswa bebas dari biaya UKT adalah mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Pulau Morotai, dan semntara penjajakan persetujuan draf pembayaran UKT bagi mahasiswa dari Kabupaten Halmahera Tengah”, katanya.
Upaya membantu generasi emas, Unkhair terus berupaya melalui kerja sama dengan berbagai pihak, agar mahasiswa dapat melanjutkan studinya dengan nyaman, dan kuliah tanpa beban di Unkhair.
Jadi, tambah warek, ada isu liar di luar, bahkan beberapa media menulis sepihak dan tidak bertanggung jawab mengatakan rektor mengeluarkan pernyataan “kalau tidak sanggup bayar, jangan kuliah di Unkhair” itu hoaks dan tidak benar.

Sekretaris Universitas Hasanuddin, Prof. Ir. Sumbangan Baja, M.Phil, Ph.D, CWM, dalam paparannya, menekankan generasi emas sesuai visi Indonesia emas 2045 mampu di wujudkan dengan beberapa karakteristik.
Menurutnya, generasi emas harus memiliki lima karakteristik utama, yakni penguasaan terhadap ilmu pengetahuan, teknologi (Iptek), keterampilan yang diperlukan oleh diri sendiri dan masyarakat (Skill), akhlak mulia (Ahlak), orientasi masa depan dan kepedulian terhadap lingkungan (Futuris), serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman (Adaptis).
Sementara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malut, Dwi Putra Indrawan, yang mengusung materi berjudul “Urgensi SDM Unggul Menyongsong Indonesia Emas”.
Baginya, untuk mewujudkan visi Indonesia 2045, negara harus keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle-income trap) dengan pertumbuhan ekonomi 6-7% per tahun hingga 2045.
Ia menekankan, pentingnya menjaga ketangguhan politik, ekonomi, keamanan nasional, dan budaya maritim sebagai poros maritim dunia.

Di samping itu, Wakil Rektor I, Dr. Hasan Hamid, M.Si, dalam closing statementnya, mengungkapkan pentingnya membahas penguatan sumber daya manusia menyongsong generasi emas 2045.
Penguatan SDM, bagi Warek harus di mulai dari membangun kemitraan dan kolaborasi bersama dengan berbagai pihak.
“Pentingnya bermitra, dan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan yang merupakan kunci untuk mewujudkan tujuan besar ini, dan memastikan keberlanjutan dari upaya mencapai tujuan”, tutupnya.

