Unkhair. Universitas Khairun panen perdana ayam potong broiler sistem sedikitnya 4.600 ekor. Selain panen ayam potong dilakukan juga penyerahan kandang closed house hasil kerjasama Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara dengan Unkhair yang ditempatkan di Kampus IV, Dusun Tuwokona (Bangko), Desa Bobaneigo Madihutu Kecamatan Jailolo Selatan Kabupaten Halmahera Barat.
Sedikitnya 4.600 ekor ayam potong dipanen menggunakan kandang tercanggih, hasil kemitraan Unkhair dengan Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara. Peternakan broiler sistem closed house memang pertama kali digunakan Unkhair, umumnya di Maluku Utara. Kerjasama ini, sebelumnya Unkhair diberi bantuan anggaran pembangunan sebanyak 45 Milyar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sedangkan, Unkhair sendiri, belum miliki ketersediaan lahan, melalui bantuan Pemprov, Kampus IV di beri lahan bangunan berdiri kokoh. Demikian disampaikan Rektor Unkhair, Dr. Ridha Ajam, M.Hum, di sela-sela acara.
Kerjasama berlanjut ke bantuan kandang ayam potong serba otomatis, kini hasilnya memuaskan. Kandang model closed house ternyata dapat menjamin keamanan ayam secara biologi, bahka sistem pengaturan ventilasinya cukup baik, sebab hasilnya mengurangi stress pada ternak ayam. “Peternakan ayam Sistem closed house, Kandang menggunanakan broiler sistem bertujuan menyediakan udara, iklim yang kondusif bagi ternak, demi meminimalisir tingkat stress pada ternak”, tutur Rektor dalam sambutannya
Rektor, juga mengatakan implikasi dari kegiatan, ini menjadi sumber pendapatan Unkhair. Menurutnya, melalui Badan Layanan Usaha (BLU) Unkhair, dipaksa kerja keras, produktif dan menghasilkan pendanaan yang cukup. Ini dilakukan demi memandirikan Unkhair. Mengembangkan usaha ternak, salah satu dari prioritasnya, “permintaan ayam potong yang luar biasa menjadi potensi dan menambah pendapatan Unkhair,” jelasnya.
Lahan seluas 14 hektar, Rektor bersama tim merancang Unkhair (Kampus IV) di Dusun Tuwokona (Bangko), tak hanya usaha ternak, namun dilakukan penangkaran lebah, budi daya ikan yang mendorong pengembangan agro-ekowisata. Sedangkan, rencana besar, ini pihaknya mengajak bersinergi bersama Korem 152, Babullah Malut, “rencana kampus, ini dijadikan tujuan destinasi wisata pangan lokal yang di tanam, karena itu perlu dukungan semua pihak,”tandasnya.
Closed house ini menghasilkan 4.600 ayam setiap bulannya, kebutuhan pakan ayam sendiri sebanyak 12 karung dengan berat rata-rata 1,9 Kg, dan 2 Kg ayam. Hasil ini secara teori, sebuah proes berlangsung normal, dan cukup baik. Sedangkan ayam potong segmentasi industri, perlu diperhatikan aspek higienis, proses normatif, serta kontinyuitas. Demikian, memenuhi kebutuhan perusahaan PT. IWIP, bila dilakukan dengan kontinyu, hasilnya 5000 ribu ekor dalam dua pekan.
Rektor menambahkan, produksi ayam potong perlu disesuaikan dengan kebutuhan, maka perlu penambahan kandang broiler sistem. Unkhair sendiri belum memiliki kemampuan, melayani permintaan perusahaan. Sebab, untuk mengakses slot 0,5 persen, berbanding kebutuhan 40 ribu kariyawan perusahaan, “perlu kerjasama tiga pilar, akademik, birokrasi, dan company, maka dipastikan adanya ketersediaan pangan di Maluku Utara,”jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Provinsi Maluku Utara, KH. Abdul Gani Kasuba, Lc, mengatakan pemerintah, khususnya Provinsi Maluku Utara berkomitmen menjalin kerjasama dengan sejumlah kampus. Salah satunya mendukung pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Universitas Khairun Ternate,_dengan cara memberi bantuan peternakan. Melalui strategi ikut mendorong kemajuan sebuah negara. “Alahamdulillah, bersama ilmuan Unkhair, Prof. Gufran Ali Ibrahim, Prof. Husen Alting, dan Dr. Ridha Ajam, M.Hum Rektor mulai bangkitkan SDM di Maluku Utara”, tuturnya.
KH. Abdul Gani Kasuba, Lc, mengaku sedikitnya 23 perguruan tinggi (PT) di Maluku Utara, sebagian saja berstatus memenuhi syarat dalam memajukan SDM. Pengalaman berkeliling Negara, ternyata memajukan negeri ini, perlu ke dua strategi, yakni pertama membangun PT, dan pemerintah ikut mendukung keberlanjutan dunia pendidikan, “maju mundurnya sebuah negeri, tergantung bagaimana pendidikannya”, katanya.
Gubernur, menambahkan sebelum mengahiri masa jabatannya sebagai Gubernur di Provinsi Maluku Utara, akan terus berkolaborasi bersama perguruan tinggi, sama-sama mendorong SDM, hingga kelak negeri menjadi dambaan bersama. Alhamdulillah, Unkhair salah satu perguruan tinggi yang memahami Visi dan Misi mengimplementasikan kerjasama mengembangkan pendidikan bidang peternakan ayam. “Saya tak bayangkan, Unkhair panen ayam potong, dan ini bentuk kerjasamanya,”katanya.
Panen ayam potong yang dilakukan bersama Unkhair, menurutnya berkat melalui tangan dingin sejumlah professor, doktoral, dan ilmuan yang di miliki Unkhair. Sebelumnya, ia mengaku pernah mengirim beberapa santri pondok pesantren (Ponpes) ke Jepang, untuk belajar mengelola ayam potong menggunakan kejanggihan teknologi, kini ia melihat langsung proses dari peternakan ayam menggunakan broiler system, dan ternyata hasilnya memuaskan. “Pernah kirim santri, berharap kembali ke tanah air bisa mandiri kembangkan kandang yam broiler system, kini bisa menyaksikan langsung proses yang di miliki Unkhair”, akuinya.
Diakhir sambutannya, Gubernur mempin lelang ayam potong yang dipanen Unkhair ke beberapa Kepala SKPD, Gubernur sendiri membeli sedikitnya 2000 ekor ayam, dan ayam tersebut akan di beri ke Istima’ Jama’a Tabligh yang sedang melaksanakan istima’ di Masjid Raya Saful Khairat di Sofifi. Selanjutnya Gubernur menginginkan sebelum mengakhiri jabatannya, ikut dorong melanjutkan doktor, dan profesor di Unkhair.
Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Provinsi Maluku Utara, Muhtar Husen, SP, mengaku menjabat Kadistan Malut, anggaran sebanyak 3 milyar tertuang di Daftar Penilaian Anggaran (DPA) tahun 2022 diperuntukan Unkhair, melihat anggaran itu ia melanjutkan kegiatan pengadaan bentuk kandang ayam potong yang di beri ke Unkhair. Hasil koordinasi ke Keuangan Malut, Kadistan menindaklanjutinya ke Rektor, kini hasilnya bisa di nikmati bersama.
“Panen ayam potong ini bentuk realisasi anggaran dari kegiatan, kerjasama Pemprov dengan Unkhair. Kehadiran kandang ini dapat mengantisipasi produksi ayam, dan tak cuma kegiatan ini saja, namun Pemprov sendiri mengalokasikan anggaran pada kegiatan pangan bawang, rica, dan tomat (Barito) dengan luas 2 hektar, tersebar di Kabupaten dan Kota di Malut, “ungkapnya.
Muhtar, melanjutkan kegiatan closed house ini sebelumnya telah melakukan kajian, dan koordinasi yang matang bersama Unkhair, disepakati budi daya ayam potong dengan rancangan broiler sisytem. Kadistan sendiri mengaku, pihaknya menyesuaikan dengan Visi dan Misi dari Unkhair dengan Pemerintah Malut. Melalui Tim bentukan Rektor, kandang ini lengkap untuk pengembangan pangan ayam potong,” katanya.
Muhtar, juga menambahkan kegiatan akan dilakukan kerjasama yang berkelanjutan, sebab dari sejumlah pengalaman bantuan Pemprov yang diberikan ke kab. dan Kota selalu mengalami mandek. Karena itu, menurutnya selain pengdaan kandang dan ayam potong, melalui Distan akan kerjasama ketersediaan pakan ayam. Sebab, pakan dari ayam potong sering mengalami fluktuasi. Pengalaman peternak ayam potong mengalami kebangkrutan itu ketika merogoh kocek dua kali lipat dari harga sebelumnya. “Kerjasama kegiatan ini, Distan tak akan lepas tangan begitu saja. Melalui bidan peternakan, melakukan pemantauan setiap saat, dan komitmen yang berkelanjutan, “jelasnya
Tindaklanjut, tambahnya alasan mandeg itu akibat minimnya ketersediaan, dan harga pakan mengalami pasang surut. Selan itu, pihaknya mengaku telah mengusulkan anggaran untuk Unkhiar, dan selanjutnya dikoordinasikan Pemerintah di Kabupaten Halmahera Barat. Unkhair sendiri diberi ruang permintaan kerjasama di bidang pertanian, baik itu peternakan atau hortikultura (bawang, rica dan tomat).
Melalui kegiatan ini, Unkhair dapat menekan surplus tak cuma hortikultura, tapi juga ketersedian ternak daging sapih dan kambing di Maluku Utara. Prinsipnya Distan tak berkewenangan terkait surplusnya, tapi setidaknya ikut mendorong keterdiaannya sebagaimana di tuangkan dalam Visi dan Misi Gubernur Provinsi Maluku Utara. “Bibit, dan segala bentuk permintaan telah disiapkan, karena di minta ke Unkhair dapat memasukan usulan permintaan, dan akan di mudahkan,”tutupnya.
Terpisah, Ardianto Pengelola Ayam Potong, yang ditemui di kandang ayam, mengungkapkan menggunakan kandang ayam potong, rancangan model broiler system, ini memberi kesan sendiri. Pasalnya, selain memberi kemudahan tersendiri, dapat efesiensi waktu, juga memudahkan pekerjaannya, “mudah menyalurkan pakan, vitamin, dan meracik obat-obatan pada ternak ayam”, katanya.
Ardianto, melanjutkan kandang ayam yang di miliki Unkhair memang berbeda dengan kandang secara tradisional. Buktinya kandang ayam broiler system ini hanya dijaga berdua dengan Syarif Hidayatullah. Pokoknya, semuanya dikendalikan dengan otomatis, dan paling penting tak menyita waktu lama, apalagi ayam potong dengan jumlah yang banyak. Sedangkan jumlah ayam yang gagal, bukan gagal panen, tapi beberapa yang mati itu akibat dari perjalanan pengiriman. “Kandang otomatis, dan meminamilisir stress pada ternak,”terangnya. (humas) Penulis : Polo / Foto : Fai


