Unkhair. Universitas Khairun gelar kuliah umum dan bedah buku “ALDERA”. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Banau Universitas Khairun Kampus 1 pada Kamis, 04 Mei 2023. Kuliah umum dan bedah buku menghadirkan anggota komisi VI BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) RI, Dr. Pius Lustrilanang, S.IP., M.Si., CFRA., CSFA yang juga menjadi pembicara utama dalam kuliah umum yang disampaikan dihadapan Sivitas Akademika Universitas Khairun.
Berbagai elemen masyarakat hadir dalam acara tersebut, mulai dari para pejabat maupun masyarakat umum, hadir dalam kesempatan itu para Bupati dan dua Walikota yakni Walikota Ternate dan Walikota Tidore Kepulauan. Turut hadir para Sekertaris Daerah wilayah Provinsi Maluku Utara serta para pejabat baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten Kota, selain para pejabat ASN hadir juga Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan para pengurus partai politik serta para aktivis dari berbagai organisasi baik mahasiswa dan masyarakat.

Hampir tiga ribu mahasiswa Universitas Khairun dan mahasiswa dari berbagai kampus lainnya di kota Ternate hadir dalam agenda kuliah umum dan bedah buku “Aldera: Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999”. Antusias mahasiswa untuk hadir dalam kegiatan tersebut membuat sebagian mahasiswa tak dapat mengikuti kegiatan dalam ruang aula karena keterbatasan kapasitas ruangan.

Rektor Universitas Khairun Dr. M.Ridha Ajam, M.Hum, ketika memberi sambutannya mengatakan dalam sejarah Universitas Khairun tidak pernah semua Bupati dan Walikota dan para pejabat yang hadir bersamaan di lingkungan kampus Universitas Khairun untuk mengikuti kuliah umum dan bedah buku, baru kali ini dengan kehadiran Bapak Dr. Pius Lustrilanang, S.IP., M.Si., CFRA., CSFA dalam agenda kuliah umum dan bedah buku dapat menjadi magnet untuk menghadirkan berbagai elemen masyarakat di lingkungan kampus. Dalam kesempatan tersebut Rektor Universitas Khairun, Dr. M. Ridha Ajam, M.Hum menyampaikan berbagai perkembangan Universitas Khairun dihadapan peserta kuliah umum dan bedah buku.

Setelah Rektor menyampaikan sambutannya, pembicara utama, Dr. Pius Lustrilanang, S.IP., M.Si., CFRA., CSFA, tampil menyampaikan kuliah umum dihadapan ribuan peserta yang hadir. Dr. Pius Lustrilanang meceritakan kembali kisah tahun 1993-1999 saat berbagai unjuk rasa dijalaninya. Aldera atau yang biasa dikenal dengan Aliansi Demokrasi Rakyat yang merupakan salah satu gerakan mahasiswa era 90 an yang cukup besar dengan tujuan utama yaitu menggulingkan kekuasaan Orde baru.
Untuk diketahui, gagasan penerbitan buku muncul dari Bung Pius Lustrilanang, kata tim penulis buku Aldera dalam pengantar penulis. Saat itu penulis berbincang santai di kediaman Pius Lustrilanang sekitar Juni 2020. Kesulitan utama dalam upaya menulis buku ini adalah bahwa jarak antara penulisan buku ini dengan awal munculnya ALDERA pada tahun 1992 terdapat selisih waktu yang cukup jauh yakni sekitar hampir 30 tahun. Para penulis menghadapai persolan daya ingat dan memburu dokumen otentik yang tidak mudah mengingat proses digitalisasi yang belum dilakukan pada saat itu.
Penulis berupaya merekontruksikan buku ini dengan cara mewawancarai sejumlah orang tidak saja yang terlibat dalam gerakan era 90 an tetapi juga mewawancarai beberapa orang yang dianggap dapat memberikan informasi.
Setelah Dr. Pius Lustrilanang, S.IP., M.Si., CFRA., CSFA, menyampaikan materi kuliah umum, acara dilanjutkan dengan bedah buku dengan menghadirkan narasumber Guru besar Antropolinguistik Universitas Khairun,Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim ,MS dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr Aziz Hasyim, SE.M.Si. Kedua narasumber tersebut dipandu oleh moderator Sri Indriani Umrah , SH.MH Dosen Fakultas Hukum Universitas Khairun.

Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim ,MS dalam kesempatan itu mengatakan bahwa Aldera dan Pius Lustrilanang dan organ organ gerakan lain dengan lengsernya satu rezim otoriter anti kritik dan sebagainya membuat Pius dan kawan kawan dengan perjuangannya yang mereka lakukan itu adalah “Menerokah Jalan Demokrasi”. Prof. Gufran juga mengatakan bahwa karpet merah telah dibikin oleh pak Pius dan kawan kawan tentu saja tidak mengabaikan teman teman kelompok aktivis yang lain, tapi dengan karpet merah itulah menjadikan kita semua menjadi seperti sekarang.
Menurut Prof Gufran ada 4 hal yang membuat diskusi ini sangatlah menarik, yakni pertama buku Aldera dengan pemeran sejarah dalam buku Aldera yang datang langsung di lokasi diskusi, kehadiran pemeran utama buku Aldera dapat secara langsung memberikan testimoni dan komentar isi buku tersebut, penting yang kedua dalam diskusi ini adalah upaya satu generasi dalam kurun waktu yang singkat antara 1993-1999 telah mengubah wajah sejarah demokrasi Indonesia, penting ketiga adalah generasi tersebut berjuang dengan taruhan nyawa, darah dan berbagai taruhan lainnya dan yang ke empat adalah setelah 28 tahun kemudian Pius Lustrilanang yang dulunya sebagai pemberi karpet merah atau menerokah jalan demokrasi sekarang telah menjadi penjaga anggaran negara yang dititipkan rakyat kepada negara.
Sebagai seorang ahli bahasa, Prof Gufran menemukan dua kata kunci dalam buku Aldera yaitu kata “Lawan” dan “Menolak Lupa” yang dalam tulisan tersebut saya sebutkan sebagai titah pergerakan bagaikan mirip sabda yang dikeluarkan oleh Aldera
Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis, Dr Aziz Hasyim, SE.M.Si menjelaskan bahwa terdapat satu kata yang menarik baginya yakni bangkit melawan atau tunggu tertindas karena diam penghianatan, kata ini menurut Dr. Aziz Hasyim hendak diilustrasikan oleh Pak Pius Lustrilanang dalam buku Aldera tersebut. Dengan kata kata tersebut bagi Dr. Aziz Hasyim dapat membangkitkan orang orang muda pada era 90 an untuk lebih semangat dalam perjuangan. Bagi Dr. Aziz Hasyim, buku ini dihadirkan sebagai pengingat akan gerakan perjuangan yang dilakukan Bang Pius Lustrilanang bersama kawan kawannya waktu itu.

Kegiatan kuliah umum dan bedah buku Aldera diakhiri dengan pemberian tanda tangan dibuku Aldera oleh Dr. Pius Lustrilanang kepada beberapa mahasiswa dan juga dilakukan penanaman pohon oleh Pak Pius Lustrilanang bersama Rektor yang dilakukan di halaman kampus 1 Universitas Khairun. (humas) Penulis : Suratin / Foto : Fadli & Fai

