Unkhair.ac.id. Sebagai bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat yang terdapat pada Tri Dharma Perguruan Tinngi, untuk itu Fakultas Kedokteran Universitas Khairun melakukan kegiatan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support) pada siswa di SMA Negeri 8 Ternate. (Senin, 14 Oktober 2019). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melatih siswa siswa dalam melakukan teknik pemberian bantuan hidup (Basic Life Support) pada korban gawat darurat seperti serangan jantung.
Serangan jantung tiba-tiba atau mendadak merupakan salah satu penyebab utama kematian diluar rumah sakit. Hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan sebanyak 70% serangan jantung terjadi di luar rumah sakit, selanjutnya hanya 10,8% korban dewasa dengan serangan jantung non-traumatik telah menerima upaya resusitasi dari emergency medical service (EMS) atau layanan darurat medis, dengan tindakan Resusitasi pasien mampu bertahan hidup hingga sampai dirumah sakit.
Resusitasi merupakan suatu tindakan atau upaya untuk mengembalikan fungsi sitem pernapasan, sistem sirkulasi dan sistem saraf pada fungsi optimal. Usaha ini lebih dikenal dengan istilah Resusitasi Jantung Paru (RJP). Resusitasi jantung paru dapat membantu menjaga oksigenasi miokard dan serebral sampai tenaga dan peralatan bantuan datang, sehingga memcegah kerusakan otak ireversibel akibat kekuranga oksigen.
Ketua Tim Pelaksana pengabdian masyarakat dr.Marwah Widuri Anwar, S.Ked mengatakan manfaat dari kegiatan ini adalah masyarakat khususnya siswa siswi sebagai representative generasi muda dapat memperoleh pengetahuan tentang teknik memberi pertolongan pada korban gawat darurat, pertolongan pertama ini juga dapat membantu mengurangi angka kematian tiba-tiba dan meningkatkan respon dini terhadap kegawatdaruratan sehingga beban kerja tenaga kesehatan dapat sedikit berkurang.
Tim pengabdian dr. Wahyunita, S.Ked menjelaskan Waktu untuk memulai resusitasi sangat penting untuk memperbaiki kemungkinan pemulihan secara ideal. Resusitasi harus dimulai dalam waktu 4 menit setelah serangan dan bantuan hidup lanjut pada jantung harus dimulai dalam waktu 8 menit setelah serangan. Pada beberapa kasus, intervensi lanjutan seperti pemberian kejut jantung untuk defibrilasi dan penambahan berbagai terapi farmakologis diperlukan untuk memaksimalkan kemungkinan pemulihan korban. Tanpa intervensi, tingkat kepulihan dari serangan jantung tidak mungkin terjadi.
RJP dibagi dalam 3 tahap, yaitu (1) bantuan hidup dasar (BHD); (2) bantuan hidup lanjut; (3) bantuan hidup jangka panjang. Bantuan hidup dasar merupakan usaha untuk melakukan oksigenasi darurat dan terdiri dari langkah-langkah (A) airway control= penguasaan jalan napas; (B) breathing support= bantuan pernapasan denganventilasi buatan dan oksigenasi pada paru; (C) Circulation support= bantuan sirkulasi dengan mengevaluasi denyut nadi dan melakukan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung dan mengatasi perdarahan.
dr.Marwah Widuri Anwar, S.Ked mengatakan tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan generasi muda khususnya siswa SMA tentang teknik pemberian bantuan hidup dasar kepada korban gawat darurat dan meningkatkan rasa cepat tanggap generasi muda terhadap kejadian gawat darurat. Lanjut dr.Marwah, kegiatan pemberian materi tentang Bantuan Hidup Dasar ini diikuti oleh 60 siswa kelas XI. Setelah pemberian materi sekitar 30 menit, dilanjutkan dengan praktik teknik pemberian bantuan hidup dasar pada korban gawat darurat yang dilakukan oleh mahasiswa semester VII. Sekitar 25 siswa diberikan kesempatan untuk langsung mempraktekkan teknik pemberian bantuan hidup dasar pada manikin resusitasi yang telah disediakan. Setelahnya dilakukan sesi tanya jawab dari siswa kepada pemateri. Pada akhir praktek teknik resusitasi, dilakukan review materi kepada siswa dan beberapa siswa menjadi perwakilan untuk merangkum materi bantuan hiudp dasar yang telah diberikan. Antusiasme siswa sangat besar untuk dapat mencoba langsung teknik resusitasi. Secara keseluruhan siswa sudah mengerti teknik pemberian bantuan hidup dasar.(Humas)





