UNKHAIR, Danau-danau vulkanik di Maluku Utara menyimpan paradoks, kekayaan ekologis dan kultural yang besar, namun rapuh oleh alih fungsi lahan serta tata kelola yang belum terpadu.
Kegelisahan itu dijawab Dr. Abdul Kadir Kamaluddin, S.P., M.Si, Kepala LPMPP Universitas Khairun, melalui riset doktoralnya yang mengangkat model pengelolaan agroforestri danau vulkanik sebagai ikhtiar menautkan pelestarian lingkungan dengan pengembangan ekowisata berkelanjutan.
Riset tersebut ia pertahankan dalam disertasi Program Doktor Manajemen Universitas Khairun berjudul “Model Pengelolaan Agroforestri Kawasan Danau Vulkanik untuk Pengembangan Ekowisata di Maluku Utara,” bertempat di Tolire Beach Resort, Ternate, Selasa (10/2/2026).
Ujian disertasi itu dipimpin Prof. Johan Fahri, S.E., M.PM., Ph.D., dengan promotor Prof. Dr. Abd Wahab Hasyim, S.E., M.Si., serta ko-promotor Ir. Lily Ishak, M.NatRes., Ph.D., dan Dr. Sulfi Abdul Haji, S.E., M.Si.
Dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Abdullah W. Jabid, S.E., M.M. sebagai Penguji I, Dr. E. Ida Hidayanti, S.E., M.Si. sebagai Penguji II, Prof. Dr. Hamidin Rasulu, S.TP., M.P., serta Dr. Rizal Marsaoly, S.E., M.M. sebagai penguji eksternal.
Pembacaan keputusan, Prof. Johan Fahri menyatakan seluruh tahapan ujian telah dilalui dan penilaian ditetapkan. Dr. Abdul Kadir Kamaluddin dinyatakan lulus dengan IPK 3,68 setelah menempuh studi selama tiga tahun empat bulan, sekaligus tercatat sebagai alumni kelima Program Doktor Manajemen Unkhair dan alumni pertama angkatan ke II.
Disertasinya, Dr. Abdul Kadir Kamaluddin, menempatkan kawasan danau vulkanik bukan semata sebagai objek wisata, melainkan sebagai sistem ekologis yang menopang sumber air, pertanian, kehutanan, serta kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.
Ia mencatat tekanan terhadap kawasan kian meningkat akibat perubahan penggunaan lahan, praktik pertanian yang kurang ramah lingkungan, serta lemahnya koordinasi kelembagaan. Tanpa pendekatan terpadu, danau-danau vulkanik berisiko kehilangan daya dukung ekologisnya.
Penelitian itu juga mengidentifikasi kekuatan kawasan pada keunikan lanskap vulkanik, keanekaragaman hayati, sistem agroforestri rempah yang telah mapan, serta kearifan lokal masyarakat.
Pada saat yang sama, menurut Dr. Abdul Kadir Kamaluddin, peluang pengembangan ekowisata berbasis edukasi dan konservasi kian terbuka, seiring meningkatnya minat terhadap geowisata dan menguatnya arah kebijakan pariwisata berkelanjutan.
Namun ia juga mencatat sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, minimnya fasilitas wisata edukatif, hingga pengelolaan lingkungan yang belum optimal. Model agroforestri yang ditawarkannya diarahkan untuk menautkan kepentingan ekologis, ekonomi, dan sosial dalam satu kerangka pengelolaan kawasan.*
_________________________________________
Laporan: Chessa |Editor: Polo |Foto: Chessa

