UNKHAIR, Universitas Khairun (Unkhair) kembali menjadi tuan rumah diskusi bertajuk “Membangun Pejuang Migas Timur Indonesia Emas: Kepemimpinan, Kompetensi, dan Kolaborasi Octahelix”, bertempat di Aula Nuku, Gedung Rektorat Kampus II. Gambesi, Rabu (28/5/2025).
Kegiatan tersebut bagian dari menjaring aspirasi daerah, khususnya Maluku Utara, untuk disampaikan kepada pemerintah pusat.
Kuliah umum ini merupakan inisiasi Guru Besar Unkhair, Prof. Dr. Ir. Ramli Hadun, S.P., M.Sc., IPU, dan dipandu oleh moderator Ir. Suyuti, ST., MT., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, Wakil Dekan I Fakultas Teknik.
Hadir sebagai narasumber utama, Muhammad Iksan Kiat, B.Eng., M.Eng., M.Sc, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Percepatan Peningkatan Produksi, Manajemen Risiko, dan Percepatan Investasi Industri Migas.
Rektor Unkhair, Dr. M. Ridha Ajam, M.Hum, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi atas pemilihan Unkhair sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi jembatan penting antara aspirasi lokal dan pengambilan kebijakan di tingkat nasional.
“Saya atas nama pimpinan dan seluruh civitas akademika menyampaikan selamat datang kepada Pak Iksan dan tim. Terima kasih telah memilih Unkhair dan Maluku Utara sebagai titik kunjungan untuk menjaring aspirasi sekaligus memberikan inspirasi demi kemajuan industri migas nasional,” ujar rektor.
Rektor juga mengungkapkan, diskusi ini sekaligus memperkuat sinergi antara kampus, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan lainnya.
Rektor menyebut beberapa menit lalu hadirnya Bupati Pulau Taliabu, Sashabila L. Mus, yang baru dilantik dua hari sebelumnya, serta Anggota DPRD dari Fraksi Gerindra, Nazlatan Ukhra Kasuba, sebagai bentuk perhatian besar terhadap posisi strategis Unkhair di wilayah timur Indonesia.
Kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Menteri ESDM, Muhammad Iksan Kiat, B.Eng., M.Eng., M.Sc, mengatakan bahwa pembangunan industri migas nasional harus berpijak pada empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Iksan juga merujuk pada visi strategis Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, serta tantangan global dan nasional yang dihadapi sektor energi.
“Tantangan sektor migas saat ini sangat kompleks, mulai dari transisi energi, fluktuasi harga minyak dunia, hingga keterbatasan investasi dan infrastruktur. Namun dengan kepemimpinan yang kuat, kompetensi SDM, serta kolaborasi antar sektor melalui model octahelix, semua itu bisa diatasi,” ujarnya.
Model kolaborasi octahelix yang dimaksud melibatkan delapan unsur penting, misalnya pemerintah, akademisi, pelaku industri, komunitas, media, investor, diaspora, dan generasi muda.
Bagi Iksan, pendekatan ini menjadi kunci untuk menciptakan industri energi yang berdaulat, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Lebih jauh, Iksan menambahkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam sektor migas, termasuk di kawasan timur seperti Maluku Utara.
“Potensi cadangan minyak dan gas kita sangat besar. Yang dibutuhkan adalah keterlibatan aktif daerah dalam arus pembangunan nasional,” katanya.
Turut hadir dalam kuliah umum tersebut, sejumlah pimpinan, antara lain Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Abdul Kadir Kamaluddin, S.P., M.Si, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Muchsin N. Bailusy, S.E., M. Si, serta Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Budaya, Ridwan, S.Pd., M.Pd.
Selanjutnya, hadir pula Wakil Dekan III Fakultas Pertanian, Ir. Aqshan Sadikin Nurdin, S.P., M.Sc., IPU, Wakil Dekan I Fakultas Hukum, Dr. Sultan Alwan, S.H., M.H, serta mahasiswa.
Sementara dari mitra eksternal, yakni Ketua Gerakan Ekonomi Kreatif (GEKRAF) Maluku Utara, Imran Guricci, serta Sekretaris GEKRAF, Mashur Tomagola. (Kehumasan)*

