Perguruan Tinggi di Era Digital Oleh Prof. Dr Jamal Wiwoho,SH.M.Hum

Unkhair.ac.id. Menghadapi daya saing era revolusi 4.0 dan menuju klaster baik Universitas Khairun terus mendorong kinerja serta akuntabilitas lebih baik lagi, dengan dukungan finansial dan otonomisasi lebih besar Universitas Khairun menuju ke PTN dengan kategori Badan Layanan Umum (BLU), hal ini disampaikan oleh Prof. Dr Jamal Wiwoho,SH.Mhum, yang berkunjung ke Universitas Khairun (Senin, 18 Februari 2019). kunjungan kali ini bukan untuk memonitoring Unkhair melainkan memberikan kuliah umum dihadapan Mahasiswa dan Civitas Akademikan Unkhair, Sebagai Inspektorat Jenderal Kemenristekdikti pria kelahiran Magelang, 8 Nopember 1961 dan ditemani oleh moderator Prof. Dr. Husen Alting, SH.MH (Rektor Unkhair) beliau memberikan kuliah umum dengan tema “Strategi Peningkatan Pemeringkatan Dan Pengawasan Perguruan Tinggi”.

Ada beberapa hal yang disampaikan Prof. Dr Jamal Wiwoho,SH.Mhum untuk peningkatan klasterisasi Perguruan tinggi yakni kinerja kemahasiswaaan dan akreditasi internasional, kerjasama Perguruan Tinggi, Penguatan Riset, Penguatan Inovasi, Publikasi Terindeks Scopus, Pangkalan Data Dosen dan Mahasiswa dan yang terakhir kareditasi institusi dan program studi, hal ini yang dapat menjadikan Universitas Khairun menuju ke klaster yang lebih baik ungkap Prof. Jamal dalam materinya, selain itu ada juga aspek pendukung yang memboboti setiap indikator klaterisasi suatu Perguruan Tinggi yakni Aspek sumber daya manusia, aspek ini harus terpenuhi 30 % dari jumlah tenaga Dosen yang harus berpendidikan S3, untuk kepangkatan Dosen dalam jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar terpehuni 30 % serta Rasio mahasiswa terhadap Dosen. Selanjutnya Aspek Kelembagaan, aspek ini harus terpenuhi 28 % dengan indkator akreditasi Institusi BAN PT di setiap Program studi dan terdapat program studi dengan Akreditasi A didorong ke akreditasi Internasional sehingga dapat menerima mahasiswa asing di program studi tersebut. Aspek Kemahasiswaan juga masik dalam indikator klaterisasi dengan bobot 12% Kinerja kemahasiswaan harus terus ditingkatkan dengan berbagai macam kegiatan mahasiswa baik ditingkat nasional maupun tingkat internasional, aspek ini juga diharapkan didukung dengan anggaran oleh Perguruan Tinggi. Aspek Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, dengan bobot 30%  aspek ini dapat meningkatkan kinerja penelitian serta pengabdian kepada masyarakat, dengan jumlah artikel ilmiah yang terindeks scopus per jumlah Dosen maka aspek PPKM ini dapat memberi sumbangsi besar terhadap klaterisasi di Perguruan Tinngi, Aspek yang terakhit adalah aspek Inovasi dengan bobot 5% namun sangat memberikan dampak pada kemajuan di Perguruan Tinggi tersebut, aspek ini dapat terlihat secara nyata dan dapat langsung dirasakan oleh masyarakat.

Setelah menyampaikan Klaterisasi serta aspek pendukungnya berikut Prof. Dr Jamal Wiwoho,SH.Mhum menyampaikan tantangan disrupsi teknologi dan revolusi indsutri 4.0, dalam menuju era ini banyak tenaga manusia yang digantikan oleh robot, hal ini beliau contohkan di dunia industri mobil, dan perusahan lainnya yang menggunakan robot dalam melaksanakan pekerjaannya, hampir 70-80% pekerja berpendapatan menegah ke bawah terancam oleh otomasi. Industri lainnya seperti industri digital juga dapat mengancam keberadaan pekerja, ancaman industri digital ini akan menghilangkan sekitar 1 – 1,5 miliar pekerjaan sepanjang tahun 2015-2025 karena digantikannya posisi manusia dengan mesin otomatis. Selain ancaman ada peluang di era industrilisasi digital ini yakni berpotensi memberikan peningkatan net tenaga kerja hingga 2.1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025 dan terdapat potensi pengurangan emisi karbon kira-kira 26 miliar metrik ton dari tiga industri: elektronik (15,8 miliar), logistik (9,9 miliar) dan otomotif (540 miliar) dari tahun 2015-2025 (World Economic Forum).

Lanjut Prof. Dr Jamal Wiwoho,SH.Mhum, bagaimana merespon masa depan dunia Pendidikan Tinggi di era digitalisasi dan industri 4.0, ada beberapa hal yang harus direspon yakni peningkatan investasi di pengembangan digital skills, Selalu mencoba dan menerapkan prototype teknologi terbaru, Learn by doing!. Menggali bentuk kolaborasi baru bagi model sertifikasi atau pendidikan dalam ranah peningkatan digital skill. Dilakukannya kolaborasi antara dunia industri, akademisi, dan masyarakat untuk mengidentifikasi permintaan dan ketersediaan skill bagi era digital di masa depan. Menyusun kurikulum pendidikan yang telah memasukan materi terkait human-digital skills. Perubahan pada dunia digitalisasi ini mendorong Dosen untuk memiliki peran penting dalam melakukan kontekstualisasi informasi serta bimbingan terhadap mahasiswa dalam penggunaan praktis diskusi daring. – Tiffany Reiss, Chief Executive Officer TheHubEdu . Fungsi Dosen pada era digital ini berbeda dibandingkan Dosen masa lalu, Kini, dosen tidak mungkin mampu bersaing dengan mesin dalam hal melaksanakan pekerjaan hapalan, hitungan, hingga pencarian sumber informasi. Mesin jauh lebih cerdas, berpengetahuan, dan efektif dibandingkan kita karena tidak pernah lelah melaksanakan tugasnya. Untuk menghadapi hal ini sekarang ini adanya perubahan yakni Fungsi Dosen bergeser lebih mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itulah yang tidak dapat diajarkan oleh mesin. Jika tidak, wajah masa depan pendidikan kita akan suram. Tugas Dosen dijaman sekarang bukan hanya persoalan mengganti kelas tatap muka konvensional menjadi pembelajaran daring, dunia Dosen di era digital berrevolusi peran Dosen sebagai sumber belajar atau pemberi pengetahuan menjadi Mentor, Fasilitaror, Motivator dan Inspirator, hal ini yang nantinya menghasilkan lulusan yang mampu menghadapi era disrupsi atau ketidakstabilan, Memberi bekal kepada mahasiswa dengan iptek yang kreatif dan inovativ. *Humas

Please follow and like us:
error20

Comments

comments

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

RSS
https://www.facebook.com/Universitas-Khairun-196552343866215/
https://www.facebook.com/Universitas-Khairun-196552343866215/
https://www.instagram.com/universitaskhairun