Fakultas Kedokteran Unkhair Gelar Edukasi Penggunaan Antibiotik Secara Tepat di Puskesmas Gambesi Kota Ternate

Unkhair. Fakultas Kedokteran Universitas melakukan edukasi mengenai penggunaan obat antibiotik secara rasional dan tepat. Kegiatan edukasi ini mengikutsertakan  enam puluh (60) orang masyarakat sekitar kelurahan Gambesi Kota Ternate. Edukasi ini berlangsung di area pelayanan Puskesmas Gambesi Kelurahan Gambes Kota Ternatei. (Kamis, 21 Oktober 2021).

Edukasi terkait dengan penggunaan obat antibodi menghadirkan narasumber dari Fakultas Kedokteran Universitas Khairun yakni dr.Fera The, M.Kes dan dr.Marhaeni Hasan, SpA,MM. Dihadapan masyarakat kelurahan Gambesi dr.Fera The, M.Kes menjelaskan bahwa Salah satu obat yang sering digunakan masyarakat dalam pengobatan sendiri adalah antibiotik. Antibiotik untuk pengobatan pada manusia mulai diperkenalkan pertama kali pada tahun 1940, kurun waktu 60 tahun antibiotik sudah banyak digunakan dan disalahgunakan. Istilah antibiotik pertama kali dicetuskan oleh Vuiilemin pada tahun 1889 dan semula memiliki arti antagonisme antar makhluk hidup. Wakzman juga orang pertama yang memperkenalkan terminologi antibiotik. Sejak saat itu antibiotika banyak digunakan klinisi untuk menangani berbagai penyakit infeksi.

dr.Fera The, M.Kes juga menjelaskan bahwa Swamedikasi atau pengobatan sendiri adalah suatu usaha perawatan diri sendiri yang dilakukan oleh masyarakat terhadap gejala penyakit yang umum diderita dengan menggunakan obat-obat yang dijual bebas di pasaran atau obat keras yang didapat tanpa resep dokter dan diserahkan oleh apoteker di apotek.

Kepada masyarakat Gambesi dr.Fera The, M.Kes menjelaskan bahwa kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat melalui penyuluhan penggunaan antibiotik secara tepat. Selain itu juga untuk meningkatkan wawasan mengenai pencegahan resistensi obat dengan penggunaan antibiotik secara tepat.

Dikatakan dr. Fera The bahawa praktek swamedikasi dengan menggunakan antibiotik semakin marak di kalangan masyarakat dan dapat menimbulkan masalah tersendiri, yaitu terjadinya resistensi terhadap suatu antibiotik dan mengakibatkan hilangnya efek suatu obat yang digunakan untuk mencegah atau mengobati infeksi. Resistensi antibiotik sudah menjadi masalah pandemi global dan salah satu kecemasan dunia yang terbesar. Indonesia memiliki angka prevalensi resistensi antibiotik yang cukup tinggi. Salah satu bakteri yang telah banyak mengalami resistensi antibiotik adalah Escherichia coli, di mana sebanyak 43% bakteri Escherichia coli yang diambil dari 2492 masyarakat Indonesia telah mengalami resistensi terhadap beberapa antibiotik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 34% telah mengalami resistensi terhadap ampisilin, 29% telah mengalami resistensi terhadap kotrimoksazol, dan 25% telah mengalami resistensi terhadap kloramfenikol.

Kesempatan yang sama dr.Marhaeni Hasan, SpA,MM yang juga narasamuber kedua menjelaskan bahwa Antibiotik merupakan golongan obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter di apotek. Masyarakat pada umumnya menggunakan antibiotik berdasarkan pengalaman sebelumnya yang sudah terbukti mampu menyembuhkan serta menghemat biaya dan waktu untuk ke dokter. Antibiotik tersebut biasanya digunakan untuk mengobati gejala demam, batuk, flu, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan berbagai penyakit ringan lainnya. Penggunaan antibiotik tanpa memperhatikan dosis dapat menimbulkan efek yang berbahaya bagi tubuh.

Penggunaan antibiotik secara rasional dapat diartikan sebagai pemberian resep yang tepat sesuai indikasi, jumlah dosis yang tepat, lama pemberian yang tepat, interval pemberian yang tepat, aman dan terjangkau bagi penderita.. Penggunaan antibiotik dalam swamedikasi dapat disebabkan karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap bahaya penggunaan antibiotik dan pentingnya menggunakan antibiotik dengan tepat. Oleh karena itu, perlu dilakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai penggunaan antibiotik secara bijak.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memberikan manfaat kepada Masyarakat, dimana masyarakat  memperoleh pelayanan kesehatan dari fakultas kedokteran berupa penyuluhan mengenai penggunaan antibiotik secara tepat dan Fakultas Kedokteran Universitas Khairun dapat mengamalkan Tridarma Perguruan Tinggi khususnya pengabdian, mampu mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya dibidang kesehatan serta mampu menghasilkan dokter yang berdaya guna. (*hms)

 

 

 

 

 

 

 

Please follow and like us: