UNKHAIR, Peluang perempuan meniti karier di sektor pertambangan, dan energi menjadi sorotan dalam agenda Women in Mining and Energy (WiME) Indonesia Goes to Campus.
Kegiatan berlangsung di Aula Nuku, Gedung Rektorat, Kampus II Unkhair, Jumat (14/8/2026), mempertemukan mahasiswa dengan pelaku industri untuk membahas peluang karier, kesiapan kompetensi, serta tantangan perempuan memasuki sektor pertambangan dan energi yang berkembang di Maluku Utara.
Agenda itu dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), Rektor Unkhair, Prof. Dr. Abdullah W. Jabid, SE., M.M, yang didampingi Wakil Rektor III, Hi. Jamal Hi. Arsad, SH., MH, dan Executive Director WiME Indonesia, Maya Muchlis. Dilanjutkan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama oleh delapan Dekan Fakultas di Lingkup Unkhair.Â
Kerja sama itu diarahkan untuk memperkuat kapasitas mahasiswa, membuka akses karier, serta menyiapkan sumber daya manusia (SDM). yang sesuai dengan kebutuhan industri pertambangan, energi, pengolahan mineral, dan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Rektor Unkhair, Prof. Abdullah, dalam sambutannya, menyampaikan, pertumbuhan industri di Maluku Utara, diikuti kesiapan generasi muda agar mampu mengambil peran sebagai tenaga profesional.Â
"Maluku Utara sedang mengalami transformasi ekonomi yang sangat cepat. Kita perlu memastikan anak-anak muda Maluku Utara, tidak hanya menjadi penonton, tetapi memiliki kapasitas dan kesempatan untuk mengambil peran,” ujarnya.
Rektor menyebutkan, kemitraan dengan WiME tidak berhenti pada penandatanganan MoU. Kerja sama tersebut akan diterjemahkan dalam program berkelanjutan yang mempertemukan kebutuhan industri dengan kapasitas perguruan tinggi.
Executive Director WiME Indonesia, Maya Muchlis, mengatakan partisipasi perempuan di sektor pertambangan dan energi masih berada di kisaran 10–11 persen. Padahal, jumlah perempuan di perguruan tinggi cukup besar.Â
Di Unkhair, sekitar 75 persen mahasiswa merupakan perempuan. Maya mengatakan tantangannya bukan sekadar meningkatkan jumlah perempuan yang menempuh pendidikan tinggi, tetapi memastikan mereka memiliki kepercayaan diri, kompetensi, dan akses untuk memasuki dunia industri.
Survei WiME pada 2022 terhadap 250 mahasiswa dari delapan perguruan tinggi di Indonesia menunjukkan 56 persen mahasiswi menyebut kurangnya kepercayaan diri sebagai alasan utama mereka ragu berkarier di sektor pertambangan.
"Karena itu, kehadiran kami bersama tim di sini adalah untuk membagikan wawasan dan peluang karier yang ada di sektor ini," kata Maya.
Sebagai langkah konkret, WiME memperkenalkan program mentorship. Program tersebut menjadi ruang pembinaan bagi mahasiswi untuk mengenali peluang karier, membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan kompetensi sebelum memasuki dunia industri.
Agenda WiME Indonesia Goes to Campus, mahasiswa mendapat paparan langsung dari pelaku industri.
Director RAKARU Island Decarbonisation Supervisor dan Quality Control AFD, Dedy Haning, memaparkan materi "Konstruksi Karir di Sektor Energi". Sementara Maya Muchlis menyampaikan materi "STEM Girls for Indonesia Energy Transition Program". Kuliah umum itu dipandu Dr. Isyana Kurniasari Konoras, S.H., M.H.
 Mahasiswa juga diperkenalkan dengan jejaring perusahaan pertambangan dan mitra industri. Mereka mendapat gambaran mengenai kebutuhan dunia kerja sekaligus peluang karier yang dapat dipersiapkan sejak bangku kuliah. (*)
Laporan: Acil |Editor: Polo |Foto: Chessa
Â