17 Aug 2026 Humas Berita Dibaca 35 kali

BRIN dan Unkhair Telusuri Legenda Putri Dehegila di Morotai

BRIN dan Unkhair Telusuri Legenda Putri Dehegila di Morotai

 

UNKHAIR, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Khairun (Unkhair) Ternate menelusuri jejak legenda Putri Dehegila di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. 

Sejak 2026, riset ini dirancang berlangsung selama tiga tahun untuk menggali nilai budaya dalam legenda Putri Dehegila, serta menelusuri potensinya sebagai sumber gagasan ekonomi kreatif.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unkhair, Hudan Irsyadi Yusuf, M.A, menjelaskan cerita rakyat merupakan rekaman ingatan kolektif masyarakat. Di dalamnya tersimpan identitas, nilai, pengetahuan, dan pandangan hidup yang diwariskan melalui tuturan.

"Cerita rakyat tidak sekadar kisah masa lalu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," ujar Hudan kepada ideaPublik, Senin (17/8/2026).

Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN bersama Unkhair, menginventarisasi serta merekonstruksi sejumlah cerita rakyat Morotai. Putri Dehegila menjadi salah satu yang mendapat perhatian.

Peneliti tidak menetapkan satu versi sebagai yang paling sahih. Ragam tuturan dicatat untuk melihat cara masyarakat menjaga ingatan, menafsirkan pengalaman, dan memaknai warisan masa lampau.

Legenda itu mengisahkan Putri Dei, putri seorang pemimpin wilayah yang dianggap telah cukup usia untuk menikah. Sang ayah menggelar sayembara bela diri untuk mencari calon suami. Kapita Sopi, yang dalam salah satu versi disebut berasal dari kawasan utara Morotai, keluar sebagai pemenang. 

Kemenangan itu, kata Hudan, belum mengantarkan Kapita Sopi ke pelaminan. Ia masih harus memenuhi syarat mahar, memindahkan pulau-pulau dari utara Morotai ke selatan dalam semalam.

Kapita Sopi berhasil memenuhi syarat itu. Dalam versi yang dihimpun peneliti, 12 pulau dipindahkan dari utara ke selatan Morotai—sebelas tiba lebih dahulu, satu menyusul. Keterlambatan itu tak menggagalkan perkawinan. Kapita Sopi akhirnya mempersunting Putri Dei, dan pernikahan mereka dirayakan masyarakat.

Menurut Hudan, keragaman muncul ketika legenda dituturkan kembali. Ada versi yang menempatkan Sangaji, ayah Putri Dei, sebagai penentu syarat perkawinan, versi lain menyebut Putri Dei sebagai penggagasnya. Kisah tentang pulau pun berbeda. Kapita Sopi disebut memindahkannya, sementara tuturan lain menggambarkannya sebagai ciptaan.

Perbedaan itu penting bagi penelitian. Cerita lisan berubah mengikuti penutur, ruang, waktu, dan pengalaman sosial. Karena itu, BRIN dan Unkhair tidak mencari satu versi yang dianggap paling sahih. Setiap tuturan dicatat untuk membaca pola pewarisan, perubahan narasi, serta nilai sosial dan budaya yang dikandungnya.

Penelitian kemudian menelusuri unsur budaya di balik cerita: tokoh, pakaian, senjata, kapal, lanskap kepulauan, simbol, kuliner, hingga kehidupan masyarakat Morotai. Dari sana terbuka kemungkinan pengembangan ke film, komik, gim, seni pertunjukan, fesyen, kriya, kuliner, fotografi, penerbitan, arsitektur, dan produk budaya lainnya.

Namun, nilai ekonomi bukan satu-satunya ukuran. Menurut Hudan, masyarakat pewaris cerita harus tetap menjadi pemangku utama. Pengembangan legenda perlu menjaga hak budaya, konteks lokal, serta memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.

Dalam pariwisata, Putri Dehegila dapat menjadi cara baru bagi Morotai menceritakan sejarah dan lanskap budayanya. Tokoh, simbol, dan kisahnya dapat dikembangkan menjadi materi interpretasi wisata maupun produk kreatif berbasis sejarah lokal.

Pada tahap awal 2026, penelitian berfokus pada inventarisasi cerita dan pemetaan unsur naratif serta budaya. Dua tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan dan penerapan hasil riset. Langkah itu membuat penelitian bergerak dari pencatatan menuju pemanfaatan pengetahuan.

Pengembangannya membutuhkan pemerintah, kesultanan, pelaku usaha, UMKM, komunitas adat, seniman, budayawan, dan masyarakat. Persoalan utamanya bukan sekadar menjadikan legenda sebagai komoditas, melainkan memastikan siapa yang memiliki cerita dan siapa yang menikmati manfaatnya.

Putri Dehegila, dengan demikian, bukan sekadar kisah tentang Dei, Kapita Sopi, dan pulau-pulau yang berpindah dalam semalam. Ia menjadi pintu untuk membaca ingatan, identitas, dan cara masyarakat Morotai memandang masa lampaunya. Dari sana, cerita lama dapat menemukan kehidupan baru tanpa kehilangan akar budayanya.(*)

Penulis: Polo |Foto: Istimewa