17 Aug 2026 Humas Berita Dibaca 42 kali BEM FIB Unkhair Hadirkan DPRD, Akademisi, dan Aktivis Bahas Kebudayaan sebagai Ruang Kritik UNKHAIR, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (FIB Unkhair) menghadirkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ternate, akademisi, dan aktivis dalam Pentas Seni dan Talkshow Kebudayaan di Benteng Oranje, Ternate, Minggu (16/8/2026), malam. Talkshow kebudayaan sebagai Instrumen perubahan sosial, mengusung tema "Kebudayaan sebagai Ruang Kritik dan Transformasi Sosial," itu dihadiri Dekan FIB Unkhair, Nurain Jalaluddin, S.S., M.A, Wakil Dekan III FIB Unkhair, Jainul Yusup, S.S., M.Hum, para dosen, dan mahasiswa. Dekan FIB Unkhair, Nurain Jalaluddin, menyampaikan apresiasi BEM FIB, dan panitia yang telah menggagas kegiatan yang mempertemukan seni, kebudayaan, dan gagasan kritis. "Kegiatan ini menjadi ruang yang baik untuk mempertemukan kebudayaan, seni, dan gagasan," ujarnya. Talkshow menghadirkan Dr. Nurlaela Syarif, S.Sos., M.M, Dr. Syahrir Ibnu, M. Rizal Riski Ramli, S.Sos, dan M. Andiansyah Kamu, S.Sos. Diskusi membahas kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, sekaligus ruang untuk membaca perubahan dan menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan sosial. Para narasumber, menyoroti pentingnya menjaga identitas dan nilai dalam tradisi. Namun, kebudayaan juga dipandang sebagai sesuatu yang dinamis dan terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Pelestarian budaya, menurut perspektif yang berkembang dalam diskusi, tidak semata-mata mempertahankan bentuk lama. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus dihidupkan agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat. Perubahan nilai dalam kehidupan sosial, juga menjadi perhatian. Peserta diajak melihat apa yang berubah, bagaimana perubahan itu terjadi, serta pihak-pihak yang memperoleh manfaat dari perubahan tersebut. Kebudayaan pun dipandang lebih luas daripada sekadar tarian, bahasa, pakaian, atau tradisi. Ia mencakup cara masyarakat berpikir, berinteraksi, membangun nilai, dan merespons berbagai persoalan di lingkungannya. Pada konteks itu, seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan kritik sosial. Kritik terhadap realitas masyarakat, tidak selalu disampaikan melalui aksi di jalan, tetapi melalui dialog, puisi, musik, teater, dan berbagai bentuk ekspresi budaya. Gagasan tersebut, kemudian hadir dalam rangkaian pentas seni. Mahasiswa baru FIB Unkhair menampilkan musik, tari, dan teatrikal sebagai ruang untuk mengekspresikan kreativitas, serra sekaligus gagasan melalui seni. Melalui talkshow kebudayaan, BEM FIB Unkhair menjadikan kegiatan ini sebagai ruang bagi mahasiswa untuk memahami kebudayaan secara kritis, sekaligus melihatnya sebagai warisan yang perlu dirawat dan medium dialog untuk membaca perubahan serta mendorong transformasi sosial. (*) Penulis: Polo |Foto: Istimewa