Mahasiswa Arsitektur Unkhair Belajar Rumah Bambu di Tongole

Unkhair.ac.id Tongole, 24 Maret 2018, 12 Mahasiswa program studi arsitektur, Universitas Khairun melakukan kuliah lapangan dengan topik Arsitektur Bambu, didampingi dosen pengampu mata kuliah, Maulana Ibrahim Ph.D. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah pilihan: Arsitektur Kepulauan Maluku Utara ini langsung mendapatkan penjelasan oleh para tukang perihal teknik pengerjaan rumah bambu, sambil melihat contohnya, dan mendapatkan penjelasan rumah bambu khas Ternate pada jaman dahulu.

Peserta Kuliah lapangan ini juga mempelajari sejarah kampong Tongole, sebuah kampong di bahu gunung Gamalama yang memiliki berbagai karakter khas, berupa beraneka ragam tanaman buah, perkebunan cengkeh dan pala, kayumanis dan berbagai pohon lainnya, termasuk pohon cengkeh tertua di dunia yang dikenal dengan nama Cengkeh Afo.

Di kampong ini dahulu semua rumah menggunakan material bambu, dalam bahasa Ternate disebut Fala Gaku atau rumah tinggi, yaitu rumah panggung. Rumah panggung tersebut ditegakkan di atas batu tanpa ditanam, membuatnya sangat fleksibel, mudah diganti material yang rusak atau dipindahkan, demikian penjelasan awal oleh Maulana Ibrahim. Keunikan rumah bambu khas Ternate adalah mulai dari kaki bangunan hingga atap, semuanya menggunakan bambu. Bambu lurik yang banyak ditemukan di Tongole ini begitu menarik penampakkannya sehingga selalu digunakan sebagai material untuk berbagai perabot rumah; produk lokal yang cukup diminati dan telah dijual ke berbagai kota lainnya, lanjut dosen dengan bidang keahlian Arsitektur Nusantara, Urban Heritage dan Perancangan Kota.

Mahasiswa peserta Kuliah lapangan mendapatkan penjelasan langsung dari tukang setempat. Bapak Asman, tukang dan pengrajin bambu asal Tongole, menjelaskan tentang karakteristik dan kegunaan bambu sebagai material rumah. Jenis bambu yang digunakan berupa bambu jawa untuk kolom dan balok, bambu tui yang tipis untuk penutup atap, dan bambu tui tebal untuk lantai; dan bambu cina atau bambu  lurik digunakan untuk material dinding, pintu dan jendela. Semua bambu ini dihubungkan dengan ikatan ijuk.

Lebih lanjut, sambil menunjukkan contoh pada bangunan bambu yang baru dibangun dengan teknik dan material yang sama dengan rumah bambu sebagai hunian di masa lampau, Pak Asman menjelaskan bahwa konstruksi bambu ini hanya dikaitkan menggunakan sambungan berupa ikatan dari tali berbahan ijuk atau disebut gumutu yang juga memiliki nilai filosofis. Ikatan gumutu begitu kuat hingga konstruksi rumah bambu dapat berdiri tegak, tidak ambruk meski diterpa angin dan gempa. Ikatan dengan teknik tertentu ini merupakan keahlian khas yang dimiliki tukang bambu di Ternate, diperolehnya secara turun temurun lintas generasi. Rumah bambu yang dahulunya menjadi rumah tinggal masyarakat ini sepenuhnya menggunakan material bambu sebagai struktur utama dan non struktur termasuk unsur estetika, yaitu anyaman bambu pada dinding, pintu dan jendela.

Penjelasan berikutnya langsung disampaikan oleh Bapak Jauhar, ketua komunitas Gamalama and Cengkeh Afo Spices, bahwa sudah tidak ditemukan lagi rumah tinggal menggunakan bambu, olehnya itu dibangun kembali sebagai sabua untuk tempat makan, minum atau bersantai wisatawan di kawasan wisata Cengkeh Afo di Tongole. Pak Jauhar yang semasa kecilnya hidup di rumah bambu juga berpesan agar anak muda mau dan bergiat untuk mempelajari teknologi bambu sebagai material dan struktur rumah tinggal.

Kuliah lapangan ditutup dengan penjelasan Maulana, bahwa bambu menjadi pilihan yang baik untuk arsitektur, tidak hanya estetika melainkan juga struktur dan manfaat lainnya sebagai material ramah lingkungan. Belajar teknologi bangunan bambu adalah salah satu upaya memperkenalkan kepada generasi muda tentang pusaka (heritage) yang dimiliki Ternate, sekaligus sebagai upaya belajar pusaka arsitektur yang perlu terus dilestarikan. Menjadikannya ciri khas arsitektur kepulauan Maluku Utara, khususnya Ternate.

Mahasiswa begitu beruntung dan senang dapat belajar teknologi dan estetika rumah bambu langsung dari tukangnya di tempat bangunan bambu yang baru dibangun; Menambah pengetahuan tentang material lokal, sekaligus sebagai upaya belajar dari  masyarakat dan lingkungan sekitar, memperkuat proses pembelajaran akademik di kampus.(*Humas).

Info dan foto dari Maulana Ibrahim (maulana@unkhair.ac.id)

Program Studi Arsitektur  Fakultas Teknik Universitas Khairun Jl. Jusuf Abdulrahman, Gambesi, Ternate 97719 Tlp & Fax : 0921 3121356

(www.teknik.unkhair.ac.id)

Please follow and like us:
20

Comments

comments

Top

Enjoy this blog? Please spread the word :)

RSS
https://www.facebook.com/Universitas-Khairun-196552343866215/
https://www.facebook.com/Universitas-Khairun-196552343866215/
https://www.instagram.com/universitaskhairun