Unkhair Weekly Seminar Ruang Sidang Fakultas Teknik, Universitas Khairun, 22 Maret 2018.

Unkhair Weekly Seminar “Pemanfaatan dan Pelestarian Benteng Oranje”

Unkhair.ac.id. Kamis 22 Maret 2018 pukul 09:00 WIT, sejumlah mahasiswa, dosen, dan perwakilan instansi pemerintah tampak antusias memasuki ruang sidang Fakultas Teknik Universitas Khairun, mengikuti Unkhair Weekly Seminar. Kegiatan presentasi dan diskusi yang diinisiasi oleh beberapa dosen Unkhair, dimotori oleh Lily Ishak, Ph.D. bertujuan untuk menyebarluaskan pengetahuan dan hasil riset dosen.

Seminar yang berlangsung di fakultas teknik ini adalah Unkhair Weekly Seminar yang ke-5 sepanjang 2017 hingga 2018. Seminar ini mengambil tema: Pelestarian dan Pemanfaatan Benteng di Indonesia, studi kasus Benteng Oranje, menampilkan dua orang narasumber, Maulana Ibrahim, PhD. dan Suyuti S.T., M.T., dosen Fakultas Teknik Unkhair dan moderator Lily Ishak, Ph.D.

Maulana Ibrahim dalam presentasinya menjelaskan tentang potensi bentengbenteng di Indonesia, dari aspek sejarah, budaya, sosial dan ekonomi. Lebih fokus, membahas benteng Oranje yang masuk 10 besar benteng paling potensial di Indonesia, termasuk ketersediaan data sejarah dan nilai edukasi. Benteng Oranje selain memiliki keunggulan nilai sejarah dan budaya, saat ini memiliki peran penting karena lokasi dan karakter ruangnya yang strategis, sebagai ruang terbuka publik dan kegiatan pendidikan dan budaya. Sebagaimana diuraikan dalam presentasinya, Maulana membahas upaya pemanfaatan ruang-ruang benteng oleh komunitas dengan berbagai aktivitasnya, baik aktivitas mingguan, bulanan ataupun sesuai momen. Komunitas memanfaatkan ruang terbuka dan gedung hasil restorasi oleh pemerintah secara kreatif dan berkesinambungan.

Pemanfaatan ini perlu mendapat perhatian pemerintah dengan mengatur tata kelola benteng Oranje yang lebih profesional. Benteng Oranje memerlukan badan otoritas yang di dalamnya terdapat unsur masyarakat sebagai manajerial benteng. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi penguasaan ruang secara sepihak dan tumpang tindih dalam pemanfaatan serta tetap terjaga kelestariannya.

Dari aspek teknis, presentasi hasil riset oleh Suyuti tentang Stabilitas Internal Dinding Benteng Oranje, menjelaskan peristiwa runtuhnya dinding benteng Oranje pada Agustus 2017. Berbagai faktor menjadi penyebab runtuhnya dinding yang telah berusia ratusan tahun tersebut, diantaranya akibat dinding yang tidak dijaga kelestariannya, masuknya air hujan ke dalam susunan batu, dan beberapa faktor pemicu lainnya. Dari bongkahan reruntuhan dinding tersebut, ditemukan berbagai material antara lain: batu kali/barangka, batu apung, pasir dan campuran kapur. Untuk campuran kapur, material yang digunakan berupa hasil pembakaran batu karang, pasir dan air dari getah pohon. Kandidat doktor Gifu University ini menjelaskan, upaya perbaikan benteng dalam konteks pelestarian sebaiknya
tetap menjaga penggunaan material asli, bukan dengan plesteran semen sebagaimana telah dilakukan.

Keaslian material dan desain juga dipertegas oleh Maulana. Jika benteng tidak dijaga keasliannya maka nilai-nilai penting yang dapat diambil pelajaran dari benteng Oranje akan musnah, sekaligus mengurangi nilainya sebagai Cagar Budaya, sebagai Pusaka (heritage) yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat dan memperkuat karakter kota Ternate. Melestarikan benteng Oranje adalah upaya terpadu dalam pelestarian kawasan bersejarah di pusat kota Ternate, berupa arsitektur dan berbagai elemen kota di sekitar benteng Oranje (kampong Tenga, kampong Cina, Kampong Makassar), dan Soa Sio, kawasan ibukota Kesultanan. Ternate sebagai kota tua bersejarah, perlu segera dilakukan upaya pelestarian secara menyeluruh, terpadu dan berkelanjutan, tidak hanya untuk identitas kota semata, tetapi untuk kesejahteraan warganya; demikian ungkap dosen dan peneliti Urban Heritage, Universitas Khairun.

Peserta yang hadir dalam seminar ini pun ikut menekankan upaya pelestarian benteng tidak perlu dengan desain yang berlebihan, mengurangi karakter aslinya. Yang terpenting adalah menjaga nilai sejarah, budaya dan manfaat bagi masyarakat. Salah satu peserta seminar, dosen FKIP pun berbagi pengalamannya bahwa wisatawan mancanegara lebih suka melihat bangunan atau kawasan tua dengan segala keasliannya, bukan hasil desain baru.

Seminar mingguan ini begitu terasa suasana akademiknya, dengan hadirnya sejumlah dosen dan mahasiswa lintas program studi, aktif bertanya dan berbagi pendapat. Hadir pula pihak pemerintah yang memenuhi undangan, terdiri atas perwakilan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Ternate, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Ternate dan perwakilan Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara. Ketiga instansi ini memiliki pekerjaan yang mewenangi benteng Oranje, dari aspek teknis, pemanfaatan dan pelestarian.

Pertukaran pengetahuan, pendapat, dan berbagai ide untuk melanjutkan riset muncul dari sesi diskusi antar instansi ini. Membuat kegiatan ini bermanfaat tidak hanya bagi civitas akademika Unkhair semata, tetapi juga untuk pemerintah dan masyarakat. Membuktikan peran dan sumbangsih Universitas Khairun. Kolaborasi antar institusi diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di benteng Oranje.

Kegiatan seminar mingguan ini pun diakhiri pada 12:30 WIT. dengan penyerahan buku Kawasan Bersejarah di Kota Ternate, sebuah laporan hasil workshop oleh Universitas Khairun bekerjasama dengan Cultural Heritage Agency of the Netherlands, Ternate Heritage Society dan Bappeda Kota Ternate (2012), oleh Dekan Fakultas Teknik kepada perwakilan pemerintah yang telah hadir pada seminar ini. (Humas Unkhair)

Fakultas Teknik Universitas Khairun Jl. Jusuf Abdulrahman, Gambesi, Ternate 97719  Tlp. 0921 – 3121356 teknik.unkhair.ac.id

Info dan foto dari maulana ibrahim

Please follow and like us:
20

Comments

comments

Top

Enjoy this blog? Please spread the word :)

RSS
https://www.facebook.com/Universitas-Khairun-196552343866215/
https://www.facebook.com/Universitas-Khairun-196552343866215/
https://www.instagram.com/universitaskhairun